Review film Venom (2018) ANTI-SPOILER!


Menurut SAYA banyak orang-orang yang nonton film ini, frame of reference-nya masih berkiblat ke Marvel Cinematic Universe (MCU). MCU jadi standar. Studio yang garap Venom ini Sony. Dan Sony beberapa kali messed up dengan film-film marvel. Jadi belum apa-apa, nonton juga belum, beberapa mungkin udah underestimate sama filmnya.

"Alah, yang garap sony. TASM aja dulu jelek, bro. Coba kalo masuk MCU. Bagus nih film,"
Mungkin, ada beberapa yang masih punya pikiran seperti ini?

Bukan masalah fans marvel sejati atau cuma fans-fans ngaku-ngaku doang.
Bukan masalah udah baca komik dan paham karakter di komiknya seperti apa.
Tapi, kalau mau membandingkan sesuatu, memang harus apple to apple.

Menurut saya jika ada orang yang membandingkan film MCU dengan satu film marvel di luar MCU, ya sudah tidak apple to apple. Film ya film. Komik ya komik. Komik hanya bisa dianggap referensi, tidak bisa dijadikan bandingan.

Saya ga bilang yang tidak suka film ini berarti melakukan hal tersebut. Saya bilang, "jika ada orang yang masih membandingkan."

Review kebanyakan orang mungkin kurang menyukai film ini. That's OK.
But it's OK too kalau kamu mau bilang film ini bagus dan memenuhi ekspektasi kamu yang haus akan hiburan dari Marvel. Saya termasuk orang yang menyukai film ini. Meskipun memang ada beberapa kekurangan yang bikin saya nanya "Lho, kok gini?", toh pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu masih bisa saya maklumi. Film ini masih dan sangat layak untuk di tonton daripada kamu ngga ada kerjaan di rumah.

7.5/10 kalo dari saya.

MENGAPA SAYA SUKA FILM VENOM?
Hubungan Eddie Brock (Tom Hardy) dan Venom Symbiote terbilang sangat mantap. Mereka cepat akrab dan bonding-nya cukup pas, terikat satu sama lain. Scene aksinya juga cukup oke dan seru, bikin nonton filmnya jadi fokus. Pembangunan karakter Eddie pun tidak terlalu bertele-tele, singkat tetapi cukup untuk menjelaskan apa yang menjadi sebab Eddie 'ketempelan' Venom Symbiote. Tom Hardy sangat cocok memerankan Eddie Brock. Sebagai jurnalis slengean, tidak kenal takut dan banyak penasaran. Eh, abis itu karirnya hancur. Eddie Brock di sini digambarkan sebagai orang yang berkarakter pasif-agresif. Diam-diam, diusik langsung sergap! Sangat cocok cara bicara, ekspresi wajah dan gerak-gerik Tom Hardy, bahkan pada film-film dia yang sebelumnya.

YANG SAYA RASA KURANG DARI FILM VENOM
Rated PG-13 membuat film Venom masih bisa dikategorikan family-friendly, apalagi banyak diselipkan humor-humor yang 'lumayan' (bisa membuat bibir bergerak ke samping kiri sedikit). Saya harap Venom harusnya rated R, supaya kelihatan lebih 'gore', dan menunjukkan betapa violent-nya si Venom ketika menghabisi lawannya.

Persona Anne Weying (Mantan kekasih Eddie Brock) mantap, apalagi ketika dia telah mengetahui segala tentang Venom. Namun, hubungan antara Anne dengan Eddie saat masih bersama, menurut saya masih kurang chemistry. Entah mengapa keterikatan mereka kurang terasa untuk saya, meskipun akhirnya mereka juga putus dan tetap berteman.

Ada beberapa karakter yang harusnya bisa dikembangkan lebih jauh, tapi malah dibuat mati begitu saja. Karakter yang dibuat mati cepat itu, adalah salah satu 'kunci' terlahirnya Venom yang menempel bersama Eddie Brock. Sayang beribu sayang. Jika saja beberapa karakter tidak dibuat mati cepat, bisa saja ending dari film Venom ini lebih dramatis. Tidak berakhir agak mudah dan agak cepat seperti di film Venom itu sendiri.

(c) 2018 R. Eris Prayatama
Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count