PUISI: Di Hadapan Perempuan Perengkuh Jarak

Image by Luizclas - Pexels

Bukankah sudah pernah kuresahkan padamu
Tentang melankolia yang datang dari aksara
Juga tentang jarak yang mengiris cahaya
Semata hanya untuk mencari bibir yang menipis karena melukis

Kepadamu, wanita yang baru saja merayakan kesedihan;
Pulas saat malam, terbius aroma parfum tadi sore,
Dengan wajah tercetak kerut seprai;
Bait sunyi dari tatapmu mendatangiku. 
kuat-kuat ku menggigit bibir
saat di antara kita tertiup badai
dan kita berpura-pura

bahwa hati ini bertutur keluh menjaga khawatirmu.
dan dengan tabah tak berkisah apa-apa

Cerita-rahasia pendek di antara kita
Tertulis, terkatakan, termaktub, dan kini
ia punya suara
membuatku merasa tidak ada di mana-mana
sekaligus membuatmu terdengar di mana-mana

mungkin saja kau adalah aku, dan
aku adalah seikat nada yang Tuhan kirim untuk
merawat ronta kesepianmu
dan, sekali lagi,
mari renungi ketidakberdayaan kita
mari sejenak termenung,
kita terjebak dan tak bisa melakukan apa-apa.

Kepada malam yang mengigilkan ingatan
Kepada jarak yang mengundurkan sentuh
Kepada perasaan yang harusnya tak dipermainkan;


Siapakah di antara kita yang paling takut ditinggalkan?

**
Musikalisasi:


Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count