Puisi: Satu Bulan

Photo by Stas Knop on Pexels


Pertemuanku satu bulan yang lalu dengan kau, hanyalah penjamuan atas kata-kata. Tak bermakna, namun terlukiskan oleh tatapan mata. Dengan sorot pandangmu, kau lebih dari sekedar bercerita. Lekuk senyummu yang melebihkan arti dari segala rasa.

Dari sebulan yang lalupun, aku tetap melanjutkan impianku untuk bisa memelukmu. Membawamu ke duniaku, perjalananku. Berangan-angan untuk mengabadikan senyum kita pada satu potret kenangan. Tergambarlah itu oleh sebuah garis pena-pena imajiner. Sepetak garisnya mewakili setumpuk rasa. Warna-warnanya yang bertumpahan menebar aroma rindu. Kata yang tertulis melukiskan isi perasaan.

Namun, impian hanya sekedar impian. Aku terhentak dari lamunanku. Dan, aku tersadar. Aku sedang berhadapan denganmu, di dunia nyata. Bukan dalam imajinasiku. Sungguh kecewa rasanya. Bagaikan mimpi dapat sejuta dolar, kemudian dibangunkan. Sejuta dolar itu hilang, bersama mimpi yang lama kelamaan otomatis terlupakan.

Tapi aku putuskan, aku akan hidup sambil menggenggam mimpiku, yang temanya kini adalah kamu. Menjadikanmu tujuan, bukan sekedar pilihan untuk singgah. Tentunya, aku harus bertindak untuk meniupkan roh kehidupan pada mimpiku sendiri.

Mimpiku bukan permainan, aku tak sudi memperjuangkanmu dengan cara bermain-main. Aku berjuang menjemput impianku, dari satu bulan yang lalu. Yang artinya, aku sedang berlari mengejarmu, impianku.

Tapi, coba kutanya. Satu bulan yang lalu, kamu sedang apa denganku? Masih ingat?***
Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count