PUISI: Ucapan Selamat




Pernah kita bertukar kata tentang seperti apa dua tahun yang akan datang. Bagaimana cara kita menjadi sah tanpa sudah. Siapa nama anak pertama, menjaga rasa agar tetap sama meski nantinya kita tak seirama. Juga apa yang kauributkan setiap pagi nanti, tentang baju yang kukenakan, hidup seperti apa yang kita cita-citakan, hingga kebahagiaan yang rencananya ingin kaulukiskan.

Lalu pertukaran aksara itu kita tinggalkan. Oh? Kautinggalkan. Atas rasa jemu yang tak mampu kita kalahkan akhirnya perpisahan harus kita rasakan. Sempat kauragukan kita akan bahagia namun akhirnya kau yang bergembira mengakhiri penantian. Dia yang kau sebut cinta telah membuat diriku terlunta. Memaksaku menutup mata demi hati yang harus tertatih atas nama cinta. Euforia cinta barumu bagai busur panah yang siap membuat hatiku berdarah, marah, terjarah ditambah hilang arah.

Tak perlu kaurisaukan hati yang kautenggelamkan, berbahagialah selalu karena untukmu aku siap menanggung pilu. Kesedihanku tak perlu kauurusi, biarkan aku terlelap dalam delusi. Mengenangmu dari segala sisi tanpa perlu afirmasi.

Kabar baik kau udarakan. Bersamanya yang kau anggap sempurna, kau tak sabar membuat semua paripurna. Sudah, tak perlu repot mencariku untuk sekadar berkabar. Saatnya kubakar segala angan, biar semua menjadi abu berasapkan kenangan. Tak perlu lagi ada jabat tangan, dalam sunyi akan kuucap untukmu, selamat berpasang-pasangan.

Selamat untuk kita yang sempat saling cemburu, sambutlah haru dari gaun biru. Selamat tinggal untuk impian kita yang pernah terkekang namun akhirnya harus lekang. Semoga aku yang kaulepas tak membuat lelaki pilihanmu ikut terhempas.

(C) 2018 - eprayatama
Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count