OPINI & ARTIKEL: I See Humanity with No Humanity


Bersamaan dengan terbitnya tulisan ini, penulis ingin menyampaikan duka cita terdalam untuk almarhum yang menjadi korban pengeroyokan bengis oleh oknum bobotoh.

Pertarungan sarat gengsi antar klub sepakbola Persib vs Persija, Minggu (23/9) berakhir dengan kemenangan Persib dengan skor 3-2 atas Persija. Namun, kemenangan tersebut diiringi dengan berita tragis, mengerikan juga menyedihkan. Bagaimana tidak, seorang Jakmania (sebutan fans persija, red) harus meregang nyawa karena dikeroyok oknum bobotoh.

Adalah Haringga Sirilla, warga Cengkareng, Jakarta Barat. Almarhum adalah seorang Jakmania yang ingin sekali menyaksikan Big Match antar Persib Bandung kontra Persija Jakarta. Terlihat dari Instastory almarhum yang memperlihatkan sebuah gambar boarding pass kereta api dengan jadwal keberangkatan dari Gambir menuju Bandung. Tertulis di story tersebut, “Jangan biarkan macan berjuang sendirian. #PersijaDay.”

Peristiwa tersebut bermula ketika ada sekelompok bobotoh yang meneriaki seseorang diduga jakmania. Ya, orang yang diteriaki itu adalah Almarhum Haringga Sirilla. Almarhum kemudian berlari mencari pertolongan. Keadaan yang begitu ramai membuatnya sulit menemukan tempat aman, pencarian gagal. Ia dirundung oleh sekelompok bobotoh. Dipukuli, diinjak, dipukuli lagi, diinjak lagi, dipukul lagi menggunakan kayu, piring, dan ada juga botol kaca. Diinjak lagi, dipukul lagi, hingga berlumuran darah... lalu sang jakmania meregang nyawa. Di tangan bobotoh.

Fakta yang sangat mengejutkan terungkap saat penulis melihat video viral yang mempertontokan aksi tersebut. Ternyata, bobotoh yang melakukan aksi keji dan biadab tersebut, banyak yang masih ABG! Anak kecil! Bocah-bocah labil yang mungkin tidur saja masih harus dikeloni oleh mamahnya! Banyak dari mereka yang hanya diam, bahkan menikmati pertunjukan menjijikkan dari bobotoh itu! Lebih gilanya lagi, mereka yang dengan nikmat menghabisi nyawa korban, termasuk yang hanya menonton, melakukannya dengan kalimat tauhid! Laa Ilaha Illallah! Para oknum bobotoh 'sinting' itu membunuh saudara sebangsanya sendiri seolah-olah mereka sedang membunuh musuh bebuyutan agamanya.

Kini, kita bisa melihat realita yang sungguh membuat getir. Bahwa banyak manusia di dunia ini. Namun, beberapa dari mereka tidak memiliki kemanusiaan. Realita ini memang ada dan harus kita terima dalam kehidupan ini. Kenyataan yang juga sungguh sangat menyakitkan bagi keluarga Almarhum. Melihat anggota keluarga kesayangannya harus meregang nyawa dengan cara demikian. Di tangan para bocah. Oknum bocah bobotoh yang tak berlebihan jika kita sebut biadab!

Jika begini, masihkah Indonesia mampu untuk bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika? Masihkah Indonesia mampu bersatu? Anak mudanya saja malah sibuk saling membunuh karena berbeda! Sibuk saling melukai karena alasan yang tak logis! Orang-orang dewasa dan seniornya masih mudah terhasut! Masih saja mendiamkan ketidakbenaran! Masih senang mengutuki kegelapan ketimbang menjadi lilin di tengah gelap gulitanya dunia.

Jawabannya? Tergantung kita sendiri. Saya pribadi? Saya katakan Indonesia mampu, Indonesia tetap bisa berdiri di atas segala perbedaan meski konflik akan selalu ada. Selama orang-orangnya mau berusaha berdamai dengan perbedaan. Mau bersahabat dengan perbedaan. Bisa menahan keinginan untuk bullying dan mengeluarkan hate speech yang sebenarnya tak perlu. Mampu menggunakan akal sehat ketimbang menuruti nafsu untuk menghabisi.

Kasus mengerikan tersebut seharusnya menjadi tamparan bagi kita semua. Semua elemen masyarakat. Pemerintah, ormas, media, ataupun masyarakat sipil. Bahwa mayoritas dari kita masih mudah tergesek emosi. Bahkan untuk hal-hal yang tak masuk akal sekalipun. Kita semua masih jauh dari sifat saling menerima dan saling menghargai. Mengingat kasus pengeroyokan fans sepakbola ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Berulang kali kasus seperti ini telah terjadi dan selalu memakan korban.

Tak bisakah kita hidup berdampingan meski kita berbeda dari segala sisi? Apa sebegitu sulitnya menerima indah perbedaan, sampai harus membunuh yang berbeda golongan dari kita? Apa kita tak punya kemampuan untuk sejenak menahan emosi, sebelum menyalurkannya dengan cara bijak nan tepat? Tak mampukah kita untuk meredam hasrat merundung orang lain yang lebih lemah dari kita? Kalau semua pertanyaan tadi, jawaban kita adalah “tidak bisa”, maka hal yang harus kita lakukan ialah, secepatnya bertanya pada diri sendiri.

“Sudah berapa lama saya hidup di dunia? Untuk apa saya hidup di dunia?”

Toh, lamanya kita hidup memiliki tujuan pun, tak cukup membuat kita bijak menanggapi persoalan dan perbedaan.

Sudah saatnya kita bertarung melawan ego kita sendiri. Sudah saatnya mengubur kisah-kisah lama yang sudah tak relevan dengan hidup kita sekarang. Sudah saatnya kita membuang jauh kebencian dalam hati kita.

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk terbuka terhadap perbedaan, meskipun perselisihan akan selalu terjadi. Tak ada salahnya membuang sisi diri kita yang mudah terhasut dan suka merundung. Gantilah dengan pemikiran yang terbuka dan tak terlalu ofensif. Sejatinya, persatuan atas perbedaan adalah kunci dari segala kedamaian. Berpikir jernih adalah sebaik-baiknya cara untuk meraih penerimaan terbaik atas perbedaan. Bukan dengan caci maki, bukan dengan pertumpahan darah.

Kita tak perlu menjadi matahari untuk menyinari yang lain, siapa tahu kita akan terbakar karena pada akhirnya kita takkan mampu. Dan akhirnya bumi kehilangan malam-malamnya. Kita tak perlu menjadi bulan yang memiliki sisi tergelapnya. Karena, sejatinya kita bisa menjadi siapa saja. Kita bisa jadi bobotoh, kita bisa jadi jakmania. Seharusnya kita bisa bersebelahan. Dan sebaiknya kita mulai dari hari ini.*



(c) 2018 R. Eris Prayatama
Dilarang copas, sepintar apapun anda copas, akan ketahuan.

Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count