Bersedia untuk Ada



Kudengar kau gundah, kudengar kau resah. Entah apa yang membuatmu begitu. Apakah tugas kuliahmu yang itu-itu saja, apakah dia teman menulismu yang diam-diam kau kagumi, ataukah distorsi dunia luar yang membuatmu sedikit tak tahan. Semua itu tak kau tampilkan pada dunia, apalagi pada laman sosmedmu. Semua itu hanya bisa didengar, dirasa, dan dibaca. Tentunya, orang dengan sedikit perasaan; yang mampu melakukannya.

Dan, pada akhirnya aku harus kembali memasukkan unsur perasaan untuk ini. Untuk apa yang kaugundahkan, untuk apa yang kaurisaukan, serta untuk dirimu, tak terkecuali.
Ketahuilah, berapa purnamapun kita tak bersua, aku tak pernah lupa. Pertama kali jumpa, pertama kali kau tertawa, pertama kali kaubawa aku ke duniamu yang kaupunya, dan saat kau mendiamkanku dengan sengaja.

Aku tak pernah berpikir, akan sejauh apa, aku denganmu pada akhirnya. Namun, sejujurnya, aku ingin tahu bahwa aku ada di sini. Aku ada, di dekat dan jauhmu. Pada bahagia atau sedihmu. Meskipun kadang tak bersuara, namun aku ada. Berharap kau berani untuk menghadapi semua masalahmu, berharap kau percaya, bahwa semua yang meresahkanmu pasti akan berlalu. Akupun tahu, semua hal yang kaulalui takkan mudah. Namun, aku percaya. Ketika kau tersenyum, kekuatan itu terpancar.

Untuk senyum itu, aku akan bertahan. Bersuara ataupun diam. Meskipun, sekarang kau tak butuh siapa-siapa untuk sekedar menyandarkan kepala. Ketahuilah, aku ada dan bersedia untuk ada. Di setiap harimu.

Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count