Bersama Batik Melukis Sejarah Cantik

Kita semua tentu tahu batik. Suatu pola yang didominasi oleh garis meliuk berbelok nan elok, dengan mudah kita temui di mana saja pada berbagai medium, salah satunya pakaian. Seringkali, motifnya yang nyeni dan rapih, membuat kita menyimpan pakaian batik di dalam lemari. Hal tersebut bertujuan agar pakaian batik kita siap sedia jika ingin dipakai. Sebagian orang memakai batik pada kegiatan formal, semisal menghadiri undangan pernikahan, saat bekerja di hari tertentu, atau saat ingin menyambut tamu kehormatan yang datang ke tempat kita. Dari sini kita sadari, bahwa batik selalu ada dalam setiap proses hidup kita. Batik melengkapi perjalanan hidup kita. Batik membantu kita melukis sejarah hidup ini.

Saat menulis tulisan ini, saya teringat akan sejarah delapan tahun lalu. Saat itu, saya bersama dua kawan saya terpilih mewakili Kabupaten Cirebon dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS), bidang debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Barat. Tiga hari sebelum hari keberangkatan, seluruh siswa kontingen LKS Kabupaten Cirebon dikumpulkan. Kelompok saya termasuk siswa-siswa lain diberikan uang bekal, buku panduan, dan yang paling spesial ialah satu kemeja batik Cirebon dengan motif yang indah. Berkualitas baik, dan desain motif batiknya yang rapi membuat saya yakin, batik ini berasal dari sentra batik terbesar di Cirebon, Jawa Barat, atau bahkan Indonesia, yaitu sentra batik di Desa Trusmi. Ada banyak toko batik di sana, salah satunya seperti gambar di bawah ini.


Sentra batik terlengkap dan terbesar di Cirebon
Begitu membanggakan rasanya, berdiri bersama perwakilan siswa-siswi terbaik dari Kabupaten Cirebon, berbagi cerita singkat karena merasa memiliki kesamaan pengalaman. Begitu terhormat, karena saat itu yang resmi melepas keberangkatan kontingen LKS Kabupaten Cirebon adalah pejabat penting pemerintahan, yakni Sekretaris Daerah dan Kepala Dinas Pendidikan. Uniknya, semua yang hadir pada acara pelepasan tersebut, semuanya memakai batik yang sama. Batik berwarna coklat pudar yang membuat mata tak jengah memandangnya.

Singkat cerita, saya bersama tim saya gagal meraih kemenangan di lomba Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Barat. Namun, saya tak pernah lupa ketika itu. Salah satu juri mengatakan performa saya cukup baik. Beliau pun berkata, bahwa pakaian batik yang tim saya kenakan berkualitas bagus. Membuat wajah kami nampak lebih cerah. Beliau sempat menanyakan tempat memesan batik ini. Spontan, kami langsung menjawab, "Cirebon, di desa Trusmi.”

Perkataan sang juri itu cukup menjadi pelipur lara saya dalam menerima kekalahan. Tentu, saya memutuskan untuk simpan batik tersebut. Saya akan memakainya pada acara yang membutuhkan peningkatan penampilan. Seperti saat ingin berbicara di depan umum, ke undangan pernikahan rekan sejawat, dan acara resmi lainnya. Sampai saat ini, batik tersebut masih ada di lemari pakaian saya. Suatu kehormatan, memiliki salah satu batik Indonesia karena terpilih sebagai insan pendidikan untuk berlomba di ajang bergengsi tingkat provinsi.
Batik kebanggaan yang menjadi seragam kontingen LKS Kabupaten Cirebon Tahun 2010.
Saat saya sudah duduk di bangku perkuliahan, beberapa kali saya sempat melakukan wisata Cirebon. Sebagai orang yang lama tinggal di Cirebon, sudah seharusnya saya mengenali budaya setempat. Saya bersama kawan-kawan beberapa kali mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Cirebon dan Wilayah III Cirebon. Empat Keraton Cirebon, Gua Sunyaragi, Museum Linggarjati, dan tempat lainnya tak absen saya datangi. Dari semua perjalanan tersebut, saya memakai pakaian batik. Kadang, saya kenakan batik bersejarah yang saya ceritakan di atas. Tak jarang pula, saya kenakan pakaian batik yang saya beli di Kompleks toko batik yang ada di Trusmi, Cirebon

Megahnya salah satu sentra batik terbesar di Cirebon, Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
Tanggal 2 Oktober, kita ketahui sebagai Hari Batik Nasional. Hari yang didedikasikan sebagai apresiasi penuh pada karya seni batik, karena batik telah menjadi pesona Indonesia. Berbagai macam batik dari seluruh Indonesia telah banyak dikenal di mancanegara. Memang sudah sepantasnya Indonesia dikenal karena karyanya. Batik adalah semacam kartu nama bagi Indonesia.

Saat saya masih kuliah pun, pada tanggal 2 Oktober saya tak pernah lupa menggunakan produk batik yang saya beli dari salah satu sentra batik cirebon. Mengingat harga produk dari sentra batik itu sangat terjangkau dan berkualitas baik, saat membutuhkan produk batik saya selalu percayakan ke banyak sentra batik yang ada di sana.

Maka dari itu, tidak berlebihan jika saya bilang, bahwa batik secara tidak langsung telah ikut serta dalam membangun diri saya dan melukis sejarah hidup saya. Acara-acara penting yang harus saya hadiri, saya juga mengenakan batik. Penampilan saya terdongkrak menjadi lebih baik saat saya menggunakan batik. Kepercayaan diri saya meningkat berkali-kali lipat saat mengenakan batik. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Akhir kata, izinkan saya untuk menegaskan semuanya. Pakaian dan produk batik lainnya, secara tidak langsung telah menemani berbagai lini hidup saya. Saat saya masih duduk di bangku sekolah, mengikuti lomba bergengsi mewakili Cirebon, saat kuliah, dan hingga saat ini sudah bekerja. Batik berkontribusi pada sejarah-sejarah cantik yang saya buat. Batik telah menjadi semacam kosmetik yang membuat diri ini terlihat lebih estetik nan kharismatik.

Percayalah, batik membuat semuanya menjadi lebih baik.*
Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count