Barangkali Saja

Di tempat ini lagi. Menyeruput kopi yang sama. Di sudut yang sama, Aku kembali menyeruput kopi yang pahit namun tertolong oleh manisnya kenangan. Kemanakah dirimu? Aku tahu kau ada. Tapi nyatanya kau tak ada. Ketika kuharapkan kau ada, kau tak ada. Lalu, kemanakah dirimu?

Barangkali saja, kau mengizinkan aku bercerita. Tentang malam-malam yang pernah kita lalui dengan menghabiskan aksara. Perdebatan kita yang menyebabkan tawa terlukis, amarah yang menyala, atau sedih yang tak tertahan. Kau dan aku menumpahkan segala perasaan. Tapi kau lupa, aku di sini menyimpan rasa. Rasa yang kukira bentuknya sama denganmu. Ternyata, apa yang kita rasakan sungguh berbeda.

Barangkali saja mereka benar. Tak perlu mengorbankan banyak waktu, usaha, daya ataupun upaya, untuk merengkuh arti kenyamanan. Karena, sesungguhnya perasaan bukanlah sesuatu yang bisa luluh dengan sejuta bukti, rayuan ataupun tindakan. Perasaan seperti dedaunan, ia akan gugur dengan sendirinya. Peristiwa itu bukanlah  hal yang bisa kamu hitung, kapan, dan bagaimana pastinya. Semua terjadi dengan sendirinya. Mungkin, aku hanyalah manusia yang transit di bawah pohon rindang, namun pohon itu tak sedikitpun menggugurkan daunnya. Pohon itu adalah kamu.


Bagi pecandu sejati secangkir kopi, mereka tahu kopi hanya bisa menemani. Kopi tak bisa menyembuhkan, karena yang bertugas menyembuhkan luka hati hanya dua. Dia atau dirimu sendiri. 

Barangkali, setiap sudut kedai kopi ini bisa mengingatkanku padamu. Barangkali saja semua ini bisa membangkitkan kenangan yang sebenarnya pahit untuk dikenang. Kukecap kopiku. Aku duduk sendiri. Setengah jam, satu jam, dua jam, hingga tiga jam berlalu, aku menunggu. Namun sosokmu tak kunjung hadir di penghujung rindu. Kau hanya hadir di setiap pojok pikiranku. Memenuhinya tanpa memberi ruang kosong, seperti hantu.

Padahal, aku sudah mencoba segala cara untuk memenuhi satu hal yang simple untukmu, nyaman. Tapi entah mengapa kita tak kunjung bersua menjabat tangan. Aku adalah payung, siap memberi keteduhan. Namun, kau layaknya seperti hari terik tak berhujan. Mungkin perasaan ini adalah rindu yang dikira menyenangkan. Tapi, untukmu, semua ini hanyalah tentang keangkuhanmu yang meresahkan sekaligus menyedihkan. Aku kira, di saat semua tanggapanmu untukku yang membahagiakan, kita telah punya satu tujuan. Tidak! Kita tidak satu tujuan, dan karenanya, kita tidak akan bertemu di akhir perjalanan.

Mungkin benar katamu dulu, perkara perasaan ialah saling. Bukan perkara siapa yang paling. Mungkin aku yang paling merindu tapi kamu tidak. Akulah yang paling menanti tapi kamu tidak. Akulah yang paling berupaya, tapi kamu tak bergeming untuk menyambutnya.

Kini, aku sadari bahwa apa yang dulu kita pernah upayakan, telah menjadi impian yang nyaris mustahil dibangkitkan. Hanya aku yang terlalu dalam mengenangmu, dan kamu tak begitu.
Ah, barangkali saja kedatanganku kali ini, di kedai kopi ini, bisa mengembalikan perasaanku seperti semula. Ya, seperti saat belum bertemu denganmu. Sehingga pada saatnya nanti, ada hal manis di sela pertemuan kita yang melibatkan kopi pahit, tanpa memasukkan perasaan manis yang sempat kita arungi.
Share:

Tidak ada komentar:

Visitor Count