Bersama Batik Melukis Sejarah Cantik

Kita semua tentu tahu batik. Suatu pola yang didominasi oleh garis meliuk berbelok nan elok, dengan mudah kita temui di mana saja pada berbagai medium, salah satunya pakaian. Seringkali, motifnya yang nyeni dan rapih, membuat kita menyimpan pakaian batik di dalam lemari. Hal tersebut bertujuan agar pakaian batik kita siap sedia jika ingin dipakai. Sebagian orang memakai batik pada kegiatan formal, semisal menghadiri undangan pernikahan, saat bekerja di hari tertentu, atau saat ingin menyambut tamu kehormatan yang datang ke tempat kita. Dari sini kita sadari, bahwa batik selalu ada dalam setiap proses hidup kita. Batik melengkapi perjalanan hidup kita. Batik membantu kita melukis sejarah hidup ini.

Saat menulis tulisan ini, saya teringat akan sejarah delapan tahun lalu. Saat itu, saya bersama dua kawan saya terpilih mewakili Kabupaten Cirebon dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS), bidang debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Barat. Tiga hari sebelum hari keberangkatan, seluruh siswa kontingen LKS Kabupaten Cirebon dikumpulkan. Kelompok saya termasuk siswa-siswa lain diberikan uang bekal, buku panduan, dan yang paling spesial ialah satu kemeja batik Cirebon dengan motif yang indah. Berkualitas baik, dan desain motif batiknya yang rapi membuat saya yakin, batik ini berasal dari sentra batik terbesar di Cirebon, Jawa Barat, atau bahkan Indonesia, yaitu sentra batik di Desa Trusmi. Ada banyak toko batik di sana, salah satunya seperti gambar di bawah ini.


Sentra batik terlengkap dan terbesar di Cirebon
Begitu membanggakan rasanya, berdiri bersama perwakilan siswa-siswi terbaik dari Kabupaten Cirebon, berbagi cerita singkat karena merasa memiliki kesamaan pengalaman. Begitu terhormat, karena saat itu yang resmi melepas keberangkatan kontingen LKS Kabupaten Cirebon adalah pejabat penting pemerintahan, yakni Sekretaris Daerah dan Kepala Dinas Pendidikan. Uniknya, semua yang hadir pada acara pelepasan tersebut, semuanya memakai batik yang sama. Batik berwarna coklat pudar yang membuat mata tak jengah memandangnya.

Singkat cerita, saya bersama tim saya gagal meraih kemenangan di lomba Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Barat. Namun, saya tak pernah lupa ketika itu. Salah satu juri mengatakan performa saya cukup baik. Beliau pun berkata, bahwa pakaian batik yang tim saya kenakan berkualitas bagus. Membuat wajah kami nampak lebih cerah. Beliau sempat menanyakan tempat memesan batik ini. Spontan, kami langsung menjawab, "Cirebon, di desa Trusmi.”

Perkataan sang juri itu cukup menjadi pelipur lara saya dalam menerima kekalahan. Tentu, saya memutuskan untuk simpan batik tersebut. Saya akan memakainya pada acara yang membutuhkan peningkatan penampilan. Seperti saat ingin berbicara di depan umum, ke undangan pernikahan rekan sejawat, dan acara resmi lainnya. Sampai saat ini, batik tersebut masih ada di lemari pakaian saya. Suatu kehormatan, memiliki salah satu batik Indonesia karena terpilih sebagai insan pendidikan untuk berlomba di ajang bergengsi tingkat provinsi.
Batik kebanggaan yang menjadi seragam kontingen LKS Kabupaten Cirebon Tahun 2010.
Saat saya sudah duduk di bangku perkuliahan, beberapa kali saya sempat melakukan wisata Cirebon. Sebagai orang yang lama tinggal di Cirebon, sudah seharusnya saya mengenali budaya setempat. Saya bersama kawan-kawan beberapa kali mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Cirebon dan Wilayah III Cirebon. Empat Keraton Cirebon, Gua Sunyaragi, Museum Linggarjati, dan tempat lainnya tak absen saya datangi. Dari semua perjalanan tersebut, saya memakai pakaian batik. Kadang, saya kenakan batik bersejarah yang saya ceritakan di atas. Tak jarang pula, saya kenakan pakaian batik yang saya beli di Kompleks toko batik yang ada di Trusmi, Cirebon

Megahnya salah satu sentra batik terbesar di Cirebon, Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
Tanggal 2 Oktober, kita ketahui sebagai Hari Batik Nasional. Hari yang didedikasikan sebagai apresiasi penuh pada karya seni batik, karena batik telah menjadi pesona Indonesia. Berbagai macam batik dari seluruh Indonesia telah banyak dikenal di mancanegara. Memang sudah sepantasnya Indonesia dikenal karena karyanya. Batik adalah semacam kartu nama bagi Indonesia.

Saat saya masih kuliah pun, pada tanggal 2 Oktober saya tak pernah lupa menggunakan produk batik yang saya beli dari salah satu sentra batik cirebon. Mengingat harga produk dari sentra batik itu sangat terjangkau dan berkualitas baik, saat membutuhkan produk batik saya selalu percayakan ke banyak sentra batik yang ada di sana.

Maka dari itu, tidak berlebihan jika saya bilang, bahwa batik secara tidak langsung telah ikut serta dalam membangun diri saya dan melukis sejarah hidup saya. Acara-acara penting yang harus saya hadiri, saya juga mengenakan batik. Penampilan saya terdongkrak menjadi lebih baik saat saya menggunakan batik. Kepercayaan diri saya meningkat berkali-kali lipat saat mengenakan batik. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Akhir kata, izinkan saya untuk menegaskan semuanya. Pakaian dan produk batik lainnya, secara tidak langsung telah menemani berbagai lini hidup saya. Saat saya masih duduk di bangku sekolah, mengikuti lomba bergengsi mewakili Cirebon, saat kuliah, dan hingga saat ini sudah bekerja. Batik berkontribusi pada sejarah-sejarah cantik yang saya buat. Batik telah menjadi semacam kosmetik yang membuat diri ini terlihat lebih estetik nan kharismatik.

Percayalah, batik membuat semuanya menjadi lebih baik.*
Share:

OPINI & ARTIKEL: I See Humanity with No Humanity


Bersamaan dengan terbitnya tulisan ini, penulis ingin menyampaikan duka cita terdalam untuk almarhum yang menjadi korban pengeroyokan bengis oleh oknum bobotoh.

Pertarungan sarat gengsi antar klub sepakbola Persib vs Persija, Minggu (23/9) berakhir dengan kemenangan Persib dengan skor 3-2 atas Persija. Namun, kemenangan tersebut diiringi dengan berita tragis, mengerikan juga menyedihkan. Bagaimana tidak, seorang Jakmania (sebutan fans persija, red) harus meregang nyawa karena dikeroyok oknum bobotoh.

Adalah Haringga Sirilla, warga Cengkareng, Jakarta Barat. Almarhum adalah seorang Jakmania yang ingin sekali menyaksikan Big Match antar Persib Bandung kontra Persija Jakarta. Terlihat dari Instastory almarhum yang memperlihatkan sebuah gambar boarding pass kereta api dengan jadwal keberangkatan dari Gambir menuju Bandung. Tertulis di story tersebut, “Jangan biarkan macan berjuang sendirian. #PersijaDay.”

Peristiwa tersebut bermula ketika ada sekelompok bobotoh yang meneriaki seseorang diduga jakmania. Ya, orang yang diteriaki itu adalah Almarhum Haringga Sirilla. Almarhum kemudian berlari mencari pertolongan. Keadaan yang begitu ramai membuatnya sulit menemukan tempat aman, pencarian gagal. Ia dirundung oleh sekelompok bobotoh. Dipukuli, diinjak, dipukuli lagi, diinjak lagi, dipukul lagi menggunakan kayu, piring, dan ada juga botol kaca. Diinjak lagi, dipukul lagi, hingga berlumuran darah... lalu sang jakmania meregang nyawa. Di tangan bobotoh.

Fakta yang sangat mengejutkan terungkap saat penulis melihat video viral yang mempertontokan aksi tersebut. Ternyata, bobotoh yang melakukan aksi keji dan biadab tersebut, banyak yang masih ABG! Anak kecil! Bocah-bocah labil yang mungkin tidur saja masih harus dikeloni oleh mamahnya! Banyak dari mereka yang hanya diam, bahkan menikmati pertunjukan menjijikkan dari bobotoh itu! Lebih gilanya lagi, mereka yang dengan nikmat menghabisi nyawa korban, termasuk yang hanya menonton, melakukannya dengan kalimat tauhid! Laa Ilaha Illallah! Para oknum bobotoh 'sinting' itu membunuh saudara sebangsanya sendiri seolah-olah mereka sedang membunuh musuh bebuyutan agamanya.

Kini, kita bisa melihat realita yang sungguh membuat getir. Bahwa banyak manusia di dunia ini. Namun, beberapa dari mereka tidak memiliki kemanusiaan. Realita ini memang ada dan harus kita terima dalam kehidupan ini. Kenyataan yang juga sungguh sangat menyakitkan bagi keluarga Almarhum. Melihat anggota keluarga kesayangannya harus meregang nyawa dengan cara demikian. Di tangan para bocah. Oknum bocah bobotoh yang tak berlebihan jika kita sebut biadab!

Jika begini, masihkah Indonesia mampu untuk bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika? Masihkah Indonesia mampu bersatu? Anak mudanya saja malah sibuk saling membunuh karena berbeda! Sibuk saling melukai karena alasan yang tak logis! Orang-orang dewasa dan seniornya masih mudah terhasut! Masih saja mendiamkan ketidakbenaran! Masih senang mengutuki kegelapan ketimbang menjadi lilin di tengah gelap gulitanya dunia.

Jawabannya? Tergantung kita sendiri. Saya pribadi? Saya katakan Indonesia mampu, Indonesia tetap bisa berdiri di atas segala perbedaan meski konflik akan selalu ada. Selama orang-orangnya mau berusaha berdamai dengan perbedaan. Mau bersahabat dengan perbedaan. Bisa menahan keinginan untuk bullying dan mengeluarkan hate speech yang sebenarnya tak perlu. Mampu menggunakan akal sehat ketimbang menuruti nafsu untuk menghabisi.

Kasus mengerikan tersebut seharusnya menjadi tamparan bagi kita semua. Semua elemen masyarakat. Pemerintah, ormas, media, ataupun masyarakat sipil. Bahwa mayoritas dari kita masih mudah tergesek emosi. Bahkan untuk hal-hal yang tak masuk akal sekalipun. Kita semua masih jauh dari sifat saling menerima dan saling menghargai. Mengingat kasus pengeroyokan fans sepakbola ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Berulang kali kasus seperti ini telah terjadi dan selalu memakan korban.

Tak bisakah kita hidup berdampingan meski kita berbeda dari segala sisi? Apa sebegitu sulitnya menerima indah perbedaan, sampai harus membunuh yang berbeda golongan dari kita? Apa kita tak punya kemampuan untuk sejenak menahan emosi, sebelum menyalurkannya dengan cara bijak nan tepat? Tak mampukah kita untuk meredam hasrat merundung orang lain yang lebih lemah dari kita? Kalau semua pertanyaan tadi, jawaban kita adalah “tidak bisa”, maka hal yang harus kita lakukan ialah, secepatnya bertanya pada diri sendiri.

“Sudah berapa lama saya hidup di dunia? Untuk apa saya hidup di dunia?”

Toh, lamanya kita hidup memiliki tujuan pun, tak cukup membuat kita bijak menanggapi persoalan dan perbedaan.

Sudah saatnya kita bertarung melawan ego kita sendiri. Sudah saatnya mengubur kisah-kisah lama yang sudah tak relevan dengan hidup kita sekarang. Sudah saatnya kita membuang jauh kebencian dalam hati kita.

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk terbuka terhadap perbedaan, meskipun perselisihan akan selalu terjadi. Tak ada salahnya membuang sisi diri kita yang mudah terhasut dan suka merundung. Gantilah dengan pemikiran yang terbuka dan tak terlalu ofensif. Sejatinya, persatuan atas perbedaan adalah kunci dari segala kedamaian. Berpikir jernih adalah sebaik-baiknya cara untuk meraih penerimaan terbaik atas perbedaan. Bukan dengan caci maki, bukan dengan pertumpahan darah.

Kita tak perlu menjadi matahari untuk menyinari yang lain, siapa tahu kita akan terbakar karena pada akhirnya kita takkan mampu. Dan akhirnya bumi kehilangan malam-malamnya. Kita tak perlu menjadi bulan yang memiliki sisi tergelapnya. Karena, sejatinya kita bisa menjadi siapa saja. Kita bisa jadi bobotoh, kita bisa jadi jakmania. Seharusnya kita bisa bersebelahan. Dan sebaiknya kita mulai dari hari ini.*



(c) 2018 R. Eris Prayatama
Dilarang copas, sepintar apapun anda copas, akan ketahuan.

Share:

OPINI: Toleransi dan Pluralisme, Solusi Kemelut Agama

Photo by Public Domain Photography on Pexels

Kalau keberadaan agama harus dibela dengan kekerasan, apa sumbangsih hal tersebut kepada peradaban manusia? Jika simbol atau praktik formal menjadi tolak ukur ketaatan, kapan agama bisa mengantar pemeluknya menuju pada penerimaan pluralitas? Kalau egosentrisme menjadi pilar pelukan manusia yang katanya beragama, bagaimana bisa agama ikut membangun institusi-institusi soaial yang adil?

***

AGAMA sering tampil dalam dua sisi. Sisi-sisinya bermusuhan. Sisi pertama, agama adalah tempat orang menemukan kedamaian, ketentraman hidup dan berbagai harapan. Di dalam agama pula, banyak orang terbantu kehidupannya. Tertopang kekuatannya, bahkan mendapatkan suntikan untuk melawan radikalisme mental yang membuat manusia saling menindas untuk memuaskan dirinya.

Di sisi lainnya, agama juga dihubungkan dengan fenomena anarkisme, lebih-lebih di Indonesia, bahkan sekarang ini di dunia internasional. Beberapa kaum menyatakan agama mengajarkan kedamaian dan melawan kebobrokan moral, tapi masih ada saja yang menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi, sehingga membakar kekerasan dan konflik. Bagaimana, supaya agama tidak dijadikan landasan pembenaran anarkisme?

Agama bisa diterima akal sehat sejauh dihayati oleh pemeluknya. Agama kan, menganjurkan pemeluknya untuk menghormati dan menghargai sesama manusia. Itu yang seharusnya dihayati. Tapi, kenyataan justru bercerita lain. Kita sendiri menyaksikan, bahkan dunia pun mencatat seberapa besar andil agama dalam membakar kebencian dan meniupkan konflik. Menghidupkan kesalahpahaman. Bisa dipahami, kalau memang sudah terjadi penghinaan dan kesemena-menaan terhadap kaum agana tertentu. Tetapi, kalau tidak ada angin apa-apa, tidak ada yang salah, malah menunjukkan kebrutalan mental yang mengatasnamakan agama? Budaya toleran nampaknya sudah habis di makan ideologi kasar yang mementingkan individualistis.

Klaim bahwa agama selalu mengajarkan perjuangan, pembelaan atau yang baik-baik, memang benar. Tapi seharusnya disadari oleh pemuka agama, antata ajaran agama yang dianut, dan tindakan itu berjarak. Tidak otomatis bagi keduanya bisa bersatu. Karena yang dikhawatirkan adalah timbulnya konflik.

Masih ingatkah, para pembaca, insiden penyiraman oleh juru bicara salah satu front agama terkemuka di Indonesia, kepada seorang sosiolog? Masih ingatkah, di saat seorang  Gubernur non-Islam ditolak ramai-ramai oleh Front agama tersebut? Pertanyaannya, haruskah semuanya tertuliskan demikian?

Dua sisi agama yang berlawanan tersebut, menunjukkan adanya hal yang bergerak di dalamnya. Hal-hal tersebut yang mendasari apa yang dilakukan manusia dengan dasar agama. Menurut penulis, setidaknya ada tiga hal. Pertama, ideologis landasan pemikiran, agama sebagai identitas dan ketiga, agama sebagai mentalitas tingkat kerja.

Pertama, agama sebagai ideologi. Inilah yang kerap kali menimbulkan konflik antar pemeluk agama. Baik dalam skala besar maupun yang terkecil. Menurut penulis, apabila sedang memperdebatkan agama, apalagi lawan bicaranya lintas agama, maka tidak bisa kita suntikkan dengan dalil-dalil agama yang kita anut. Akan percuma bagi mereka karena mereka sama sekali tak berpikiran serupa dengan kita, bahkan tidak mengenal agama kita. Menyuntikkan orang di luar agama kita atau yang setidaknya menolak agama, sama saja dengan menyiram api memakai bensin. Bukannya padam malah semakin menyala. Percuma, bukan?

Seharusnya bisa kita menundukkan lawan bicara kita yang lintas agama (dalam hal perdebatan agama), menggunakan argumen-argumen logis dan mengandung banyak fakta serta mengandung unsur persuasif agar menghendaki, atau setidaknya mau memahami dan mengerti pemikiran kita terhadap keyakinan agama tertentu. Tetapi, ini akan sulit terjadi apabila ada salah satu pihak yang tidak menerima pluralitas sebagai toleransi beragama. Istilah jawanya, saklek. Tidak mau mengganti ideologinya. Egosentris dan ethnosentris. Bukankah, toleransi senormal-normalnya bisa menciptakan keteraturan dan keselarasan hidup bersama? Meskipun pada akhirnya tetap harus ada aturan mainnya.

Kedua, agama sebagai identitas. Agama sebagai faktor identitas, dapat didefinisikan sebagai kepemilikan pada kelompok sosial tertentu. Kepemilikan ini memberikan stabilitas sosial, status, pandangan hidup, cara berpikir dan etos tertentu. Contohnya seperti Muslim Aceh, Katolik Flores dan Bali Hindu. Pertentangan antar etnis ini bisa melebar menjadi konflik antar agama. Mengapa? Karena identitas agama tak dapat terpisahkan dari ego, harga diri, atau harkat martabat suatu kelompok. Karena itu, jika identitas agama tidak dihormati, ia akan segera memicu konflik karena mengancam status sosial, stabilitas sosial serta kenyamanan pemeluknya.” (Haryatmoko, Etika Politik)

Ketiga, agama sebagai mentalitas tingkat kerja. Tidak ada yang salah bekerja dengan bermodalkan pengetahuan agama yang seberapa luasnya. Tidak ada yang salah. Namun, ada juga segelintir manusia yang menjual kepalsuan agama demi meraih keuntungan. Mungkin pembaca masih ingat, ada seorang ustadz yang mengaku membuka pengobatan alternatif, menjual titel ustadz dan pengetahuan agamanya, kemudian menipu seluruh kliennya? Apakah ini masih bisa disebut pantas?

Kalau agama hanya dihayati sebagai pengeruk keuntungan, jangan heran, bila ada segelintir orang yang bergelut di dalam dunia agama, malah miskin dalam keyakinannya. Jangankan prihatin ia tak mau menerima pluralitas, sesama pemeluk agamanya saja bisa ia bohongi. Sindrom ini yang harus dihilangkan, agama dimaknai sebagai ladang pengeruk keuntungan, bukannya media untuk menyebarkan keberkahan dan kemuliaan.

Bagaimana solusi atas segala permasalahan pemahaman agama yang menimbulkan konflik? Jawaban saya sendiri, toleransi.

Toleransi, kedamaian, komitmen kepada janji, ganjaran, dan pengampunan adalah nilai-nilai yang sangat ditekankan oleh agama.” (Haryatmoko – Etika Politik). Tapi, semua itupun bergantung kepada itikad baik yang pastinya sangat labil terdistorsi godaan untuk melakukan yang sebaliknya. Maka untuk menjamin hal tersebut, perlu adanya sistem yang mendukung dan menopang pluralitas. Mungkin hal ini ada di sistem demokrasi, tetapi memang nyatanya harus diperkuat lagi. Dan, tentunya harus dibarengi dengan aturan main yang sesuai. Sesuai terhadap apa yang masing-masing orang yakini (agamanya).

Komunikasi adalah kunci dari segalanya. Setiap bentuk komunikasi akan menghasilkan makna. Sikap kritis juga diperlukan dalam pluralisme, menandai kita aktif menyeleksi hal mana yang pantas kita terima dan maklumi, dan mana yang memang harus dilawan dengan rasio akal sehat. Dan pada akhirnya, komunikasi pula yang akan membentuk makna, apakah kiranya kita adalah orang yang benar-benar mau jika tercipta kedamaian? Juga menunjukkan, apakah kita benar-benar bisa untuk mempraktekkan pluralisme? Penulis sendiri pun, masih bertanya kepada dirinya sendiri.*



(c) 2015, R. Eris Prayatama
Dilarang copas, sepintar apapun anda copas akan ketahuan.
Share:

PUISI: Ucapan Selamat




Pernah kita bertukar kata tentang seperti apa dua tahun yang akan datang. Bagaimana cara kita menjadi sah tanpa sudah. Siapa nama anak pertama, menjaga rasa agar tetap sama meski nantinya kita tak seirama. Juga apa yang kauributkan setiap pagi nanti, tentang baju yang kukenakan, hidup seperti apa yang kita cita-citakan, hingga kebahagiaan yang rencananya ingin kaulukiskan.

Lalu pertukaran aksara itu kita tinggalkan. Oh? Kautinggalkan. Atas rasa jemu yang tak mampu kita kalahkan akhirnya perpisahan harus kita rasakan. Sempat kauragukan kita akan bahagia namun akhirnya kau yang bergembira mengakhiri penantian. Dia yang kau sebut cinta telah membuat diriku terlunta. Memaksaku menutup mata demi hati yang harus tertatih atas nama cinta. Euforia cinta barumu bagai busur panah yang siap membuat hatiku berdarah, marah, terjarah ditambah hilang arah.

Tak perlu kaurisaukan hati yang kautenggelamkan, berbahagialah selalu karena untukmu aku siap menanggung pilu. Kesedihanku tak perlu kauurusi, biarkan aku terlelap dalam delusi. Mengenangmu dari segala sisi tanpa perlu afirmasi.

Kabar baik kau udarakan. Bersamanya yang kau anggap sempurna, kau tak sabar membuat semua paripurna. Sudah, tak perlu repot mencariku untuk sekadar berkabar. Saatnya kubakar segala angan, biar semua menjadi abu berasapkan kenangan. Tak perlu lagi ada jabat tangan, dalam sunyi akan kuucap untukmu, selamat berpasang-pasangan.

Selamat untuk kita yang sempat saling cemburu, sambutlah haru dari gaun biru. Selamat tinggal untuk impian kita yang pernah terkekang namun akhirnya harus lekang. Semoga aku yang kaulepas tak membuat lelaki pilihanmu ikut terhempas.

(C) 2018 - eprayatama
Share:

Tips Berguna untuk Mahasiswa Baru!

September, enam tahun lalu, di bulan ini saya resmi menjadi mahasiswa di salah satu PTS ternama di Kota Cirebon. (Di Kota Cirebon loh, ya). Saya menjalani kehidupan perkuliahan dari 2012 hingga empat tahun kemudian, tepatnya di Juni 2016, saya resmi lulus berpredikat 'Dengan Pujian' lalu Agustus 2016 saya diwisuda.

Tentunya, keadaan pada tahun 2012 lalu, berbeda dengan keadaan sekarang (2018). Semuanya serba digital, apa-apa tinggal googling, youtube, dan berbagai cara mudah lainnya. Meskipun pada tahun 2012 zaman juga sudah canggih, harus diakui bahwa tahun 2012 tidak sedigital sekarang. Ponsel android belum begitu menjamur. BlackBerry masih merajai. Internet tidak sengebut sekarang.

Lalu, apa yang tidak berubah? Prinsip hidup kemahasiswaan, yang menurut saya masih belum banyak berubah. Nasihat-nasihat para alumni yang sudah lama pun, masih bisa kita terapkan dengan penyesuaian yang kita anggap perlu.

Nah, di sini, saya akan membagikan beberapa tips kepada pembaca sekalian, yang mungkin statusnya masih menjadi mahasiswa baru. Tips tentang bagaimana caranya menjalani kehidupan di dunia perkuliahan. Simpan saja dulu. Bookmark saja dulu laman situs ini, gratis kok. Siapa tahu, jika suatu saat ingin membaca, kamu bisa langsung ke laman situs ini tanpa perlu pusing mencari.

Berikut tips dari saya tentang menjalani kehidupan di dunia perkuliahan, sebagai mahasiswa baru:

1. IP Penting, tapi jangan didewakan!
Photo by Yogendra Singh on Pexels
Indeks prestasi (IP) memang penting, tapi tak perlu kita dewakan. Pada akhirnya, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hanyalah sekadar angka yang kalian dapatkan sesuai dengan usaha kalian dalam menjalani kegiatan akademik di kelas. Jagalah IP agar tidak terlalu rendah. Boleh pasang target tinggi sebagai motivasi. Tapi, sekali lagi jangan didewakan. IP dan IPK tidak selalu jadi penentu kalian pintar atau tidak. Keliru juga apabila kita berpikir kalau IPK tinggi maka kita nanti akan sukses setelah lulus. IPK tentu membantu dalam proses kita mencari kerja nanti. Tapi, yang nomor satu adalah skill dan seberapa keras usahamu mengejar kesuksesan.

2. Perluas pergaulan, tambah banyak teman!
Photo by Rawpixel on Pexels




Untuk apa kuliah jika temanmu tidak bertambah? Memang, teman dan sahabat itu cocok-cocokan. Tapi relasi harus diperluas dan dijaga dengan baik. Minimal kita mencoba untuk menjaga hubungan baik dengan semua orang. Memang tidak bisa semuanya. Tetapi, minimal kita akan punya banyak orang yang bersikap netral atau bahkan senang kepada kita. Banyak lho contohnya, ketika sudah lulus nanti. Kita ditawari pekerjaan dan proyek profesional oleh teman yang justru tidak dekat-dekat amat dengan kita. Nah, di situ tujuannya memperluas relasi. Memang dampaknya tidak kita rasakan saat ini juga, namun suatu saat bisa saja semua itu menjadi sangat berguna.

3. Kuliah tidak semata mengejar ilmu, tapi juga memperluas pola pikir
Photo by Pixabay on Pexels


Banyak-banyak baca buku. Terserah genre bukunya apa, utamakan buku-buku yang berisikan karya dan pemikiran seseorang. Membaca karya seseorang dapat berarti menyelam ke alam pikir si pembuat karya tersebut. Lalu perbanyak ngobrol dan diskusi bareng teman. Menurut saya, membaca buku dan berdiskusi juga berkesempatan membuat kita melihat sesuatu hal dari berbagai perspektif. Ada kalanya kita egois akan pendapat dan keyakinan kita. Namun, manusia itu dinamis. Dari situlah kita berkembang dan belajar. Sekarang, mungkin karena baru lulus SMA/K, kita masih merasa sangat hebat dan kuat. Lambat laun, kita sepatutnya sadar bahwa ada pihak-pihak lain yang keberadaannya harus kita hargai.
Lalu dengan pola pikir yang luas, kita akan terhindar dari yang namanya menjadi kaum sumbu pendek. Kaum yang beda sedikit langsung sensitif dan kaum yang kalau berbicara tidak pernah disaring dulu, alias kata-kata yang terucap darinya seakan tak beretika.

4. Latih soft skill kita, jaman sekarang ngandelin ilmu dari perkuliahan dan dosen, ya mana cukup?
Soft skill mutlak kita butuhkan. Banyak lho lulusan perguruan tinggi yang belum punya skill mantap untuk bersaing di dunia kerja. Soft skill adalah segala kemampuan diri dalam mengerjakan sesuatu. Dan ini tidak diberikan di perkuliahan. Soft skill bebas kita tentukan sendiri. Sukanya apa? Menulis? Latihlah kemampuan menulismu, dan coba kirimkan tulisan-tulisanmu ke surat kabar. Siapa tahu dimuat, kamu dianggap kontributor dan kamu dapat uang. Suka ngengambar digital? Buka jasa desain grafis, latihlah kemampuanmu sampai lancar. Jika sudah ok, bolehlah sekali-sekali ikut kompetisi desain atau naikkan harga jasa desain.

Bisa dilihat bahwa memiliki soft skill,tentunya akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri kita, apalagi kita yang nanti akan melamar kerja. Punya skill dan kemampuan sendiri, mutlak dibutuhkan. Agar kita banyak bisa dalam segala hal.

5. Jangan kerja dulu di semester awal
Photo by JESHOOTS on Pexels


Kerja sambil kuliah sangatlah baik. Karena selain menguatkan kita, tanggung jawab pun bertambah. Tapi, sebaiknya pikirkan lebih jauh jika kita ingin sambil kerja dalam berkuliah. Apalagi saat awal-awal kuliah.
Masih banyak dunia perkuliahan yang perlu kita kenal. Kita mungkin akan menemui kesulitan saat kita ingin mengikuti organisasi kampus, himpunan mahasiswa (Hima) ataupun unit kegiatan mahasiswa (UKM), karena terbentur jadwal kuliah dan pekerjaan kita yang begitu padat. 

6. Jadilah anak rajin! Jangan malas!
Photo by Burst on Pexels


Ini sih klise, tapi masih banyak yang susah ngelakuin. Intinya, kalau kuliah, ya, jangan malas. Ikutin jadwal dan kebiasaan dosen. Kalau dosenmu tepat waktu, jangan sekali-kali berangkat terlambat, atau kita akan kehilangan satu kali absensi perkuliahan, yang artinya hal tersebut akan mengurangi nilai kita nanti. Kalau dosen nggak masuk, jangan kebanyakan hura-hura. Balik lagi ke poin 4. Lebih baik kita latih dan pelajari skill yang ingin kita miliki. Dan, terakhir..

7. Jangan lupa senang-senang bareng kawan!
Photo by Helena Lopes on Pexels


Mumpung kuliah pun masih belum kenceng-kenceng amat, nih. Boleh lah, di waktu senggang perkuliahan, kita jalan bareng sama teman-teman kita. Mau yang jauh atau dekat gak terlalu jadi masalah, yang penting bareng. Kenali diri satu sama lain. Cari teman dekat kita. Karena, dalam empat tahun perkuliahan, sebagian besar akan kita habiskan bersama teman-teman yang kita pilih. Ingat, empat tahun tidak bisa kita bilang sebentar. Pandai-pandailah bergaul dengan kawan-kawan dekat kita.

Intinya, perkuliahan tidak menjamin kita akan sukses. Tidak menjamin kita jadi pintar. Semua kembali lagi pada diri sendiri. Bagaimana cara kita menjalani empat tahun perkuliahan ini? Yakinlah. Proses tak akan mengkhianati hasil.

Selamat menempuh hidup baru di dunia kampus. Semoga perjuangan teman-teman mahasiswa baru dalam empat tahun berkuliah dapat berbuah manis.*
Share:

Puisi: Satu Bulan

Photo by Stas Knop on Pexels


Pertemuanku satu bulan yang lalu dengan kau, hanyalah penjamuan atas kata-kata. Tak bermakna, namun terlukiskan oleh tatapan mata. Dengan sorot pandangmu, kau lebih dari sekedar bercerita. Lekuk senyummu yang melebihkan arti dari segala rasa.

Dari sebulan yang lalupun, aku tetap melanjutkan impianku untuk bisa memelukmu. Membawamu ke duniaku, perjalananku. Berangan-angan untuk mengabadikan senyum kita pada satu potret kenangan. Tergambarlah itu oleh sebuah garis pena-pena imajiner. Sepetak garisnya mewakili setumpuk rasa. Warna-warnanya yang bertumpahan menebar aroma rindu. Kata yang tertulis melukiskan isi perasaan.

Namun, impian hanya sekedar impian. Aku terhentak dari lamunanku. Dan, aku tersadar. Aku sedang berhadapan denganmu, di dunia nyata. Bukan dalam imajinasiku. Sungguh kecewa rasanya. Bagaikan mimpi dapat sejuta dolar, kemudian dibangunkan. Sejuta dolar itu hilang, bersama mimpi yang lama kelamaan otomatis terlupakan.

Tapi aku putuskan, aku akan hidup sambil menggenggam mimpiku, yang temanya kini adalah kamu. Menjadikanmu tujuan, bukan sekedar pilihan untuk singgah. Tentunya, aku harus bertindak untuk meniupkan roh kehidupan pada mimpiku sendiri.

Mimpiku bukan permainan, aku tak sudi memperjuangkanmu dengan cara bermain-main. Aku berjuang menjemput impianku, dari satu bulan yang lalu. Yang artinya, aku sedang berlari mengejarmu, impianku.

Tapi, coba kutanya. Satu bulan yang lalu, kamu sedang apa denganku? Masih ingat?***
Share:

Penerimaan CPNS Dibuka 19 September 2018

Baru-baru ini, Badan Kepegawaian Nasional (BKN) melakukan siaran pers terkait resmi dibukanya penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun Anggaran 2018.

Siaran pers BKN yang dihelat di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis lalu (6/9), menyatakan bahwa pembukaan pendaftaran CPNS dimulai dari Tanggal 19 September 2018. Bersamaan di tanggal tersebut, portal nasional tes CPNS yang beralamat di http://sscn.bkn.go.id juga akan dibuka aksesnya. 

Baca juga: Rekrutmen CPNS 2018 Segera Dibuka, Bersiaplah!

Kepala BKN, Bima Haria Wibisana menegaskan bahwa tidak ada pendaftaran melalui portal instansi tertentu, karena semuanya sudah terintegrasi dengan portal nasional CPNS.  Seperti tahun kemarin, tes penerimaan CPNS kali ini masih memakai sistem Computer Assisted Test
(CAT) untuk menghandle berbagai tesnya, seperti tes kompetensi dasar dan tes kompetensi bidang.

Lebih rinci, Kepala BKN menguraikan bahwa BKN sudah mengantisipasi keadaan jumlah peserta seleksi yang bisa mencapai 5 hingga 6 Juta orang.  Diyakini juga, total pelamar tahun ini akan melampaui total peserta.

Sementara itu, tempat dan jadwal pelaksanaan tes CPNS belum diketahui secara pasti. Mungkin, masih banyak hal yang menjadi diskusi hangat di kalangan internal BKN. Namun, pada siaran pers tersebut, proses-proses lainnya terkait tes CPNS ini akan memakan waktu sampai tanggal 18 September.

Jadi, mari kita tunggu kejutan dari BKN tentang kabar tes CPNS yang sangat kita nanti-nantikan datangnya.

Selamat berjuang, pejuang CPNS!

Share:

Rekrutmen CPNS 2018 Segera Dibuka! Bersiap-siaplah!

Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi melalui akun twitter resminya, @KempanRB, mengumumkan bahwa gelaran tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018 akan segera dihelat. Tweet tersebut bertanggal 6 September 2018.

"Pemerintah telah mengumumkan akan melakukan seleksi CPNS 2018. Persiapkan diri dengan baik! Informasi lainnya akan kami sampaikan dan selalu update melalui website https://t.co/txREq1fDtQ https://t.co/1DfKXpgKy8 & medsos resmi KemenPANRB @BKNgoid", demikian cuitan dari akun twitter @KempanRB.

Belum ada tanggal pasti kapan tes CPNS akan digelar. Tapi, setidaknya masyarakat, khususnya yang ingin mengabdikan dirinya menjadi aparatur negara, kini mendapat kejelasan, bahwa memang tes CPNS 2018 benar akan digelar.

Kini, masyarakat tinggal menunggu pihak yang bersangkutan seperti Kemenpan-RB dan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) mengumumkan formasi penerimaan masing-masing daerah dan instansi.

Selagi menunggu pengumuman akan tanggal resmi pendaftaran CPNS dibuka, masyarakat yang ingin mendaftar bisa melakukan hal-hal lain terlebih dahulu. Contohnya, mempelajari contoh-contoh soal tes CPNS melalui buku bank soal maupun melalui soal-soal yang tersedia di Internet.

Selalu semangat, ya, pejuang tes CPNS. Niatkanlah diri kita untuk mengabdi pada negara, apabila kita nanti terpilah jadi PNS. Jangan salah niat, seperti niat ingin jadi kaya atau jadi calon menantu idaman 😁

Share:

Waspada! Modus Baru Kejahatan Maling Motor


Hati-hati, bikers! Modus kejahatan baru dalam pencurian sepeda motor kini mengincar pelajar. Kejadian ini terjadi pada neighbourhood (lingkungan) saya, tepatnya di wilayah Sumber, Cirebon, Jawa Barat. Seorang pelajar bernama Imam, kehilangan sepeda motor maticnya usai ditipu oleh orang yang tidak dikenal.

Kejadiannya, pada hari Minggu, (2/9/18) sekitar pukul 16.00 WIB. Imam sedang mengantar temannya pulang. Saat perjalanan, tiba-tiba ia dicegat oleh orang yang tidak dikenal dan mengajaknya berbincang.

Orang tidak dikenal yang merupakan pelaku kejahatan ini, diketahui mencegat dan menuduh Imam telah menganiaya saudara si orang tidak dikenal tersebut. Imam kemudian diminta membuktikan kalau penganiayaan itu tidak pernah terjadi. Orang tidak dikenal tersebut kemudian menyuruh Imam untuk mengikutinya. Kemudian Imam dibawa ke salah satu warung yang ada di wilayah Pamijahan, Plumbon.

Di warung tersebut, motor si Imam ditinggal dan pelaku mengajak Imam berboncengan. Dengan modus diantar ke rumah si pelaku, Imam mengikuti saja. Di tengah perjalanan, mereka berdua berhenti di salah satu musala. Pelaku berpura-pura meminjam kunci kontak korban, dengan alasan untuk dicocokkan dengan bekas luka saudara si pelaku. Si Imam percaya saja, karena toh motor pelaku pun ada bersamanya di musala.

Setelah kembali, Imam diberikan kunci kontak yang sepintas terlihat mirip dengan kunci motor miliknya. Lalu, Imam dibonceng lagi oleh si pelaku, dan diturunkan di sebuah gang yang cukup sepi. Pelaku meminta Imam menunggu di sana, sembari si pelaku menjemput saudaranya.

Imam kemudian teringat sepeda motornya yang ditinggal di warung. Lalu ia bergegas kembali ke warung tersebut. Nahas, sayang seribu sayang, malang tak dapat dihalang, motor kesayangannya telah dibawa kabur pelaku. Imam tersadar, bahwa ia telah menjadi korban penipuan oleh stranger. Orang tak dikenal.

Sehari setelahnya Imam melaporkan kejadian ini ke Kantor Polisi setempat.

Modus kejahatan kini ada-ada saja, bahkan beberapa di antaranya sulit diterima akal sehat. Mari kita doakan, agar Imam dapat berjumpa kembali dengan sepeda motor kesayangannya, dan pelaku yang sangat tega nan jahat ini bisa segera tertangkap.

Selalu waspada di jalanan. Usahakan, minimalkan kontak dengan orang yang tidak kita kenal. Jangan meladeni orang asing yang mengajak berkomunikasi dengan topik yang aneh dan tidak masuk akal. Karena, 95 persen bisa saya pastikan, hal tersebut merupakan awal dari modus kejahatan.

Be careful, fellas!


Share:

TEMPLATE DESAIN - NEON EFFECTS PSD



TEMPLATE GRATIS DESAIN GRAFIS

File: main-neon-light-effect.psd
Bisa dibuka melalui Photoshop (minimal CS4 biar aman dan nyaman)
Font standar desain ini: Marquee Moon
Tinggal korek-korek ganti-ganti aja di smart objectnya.
Kalau ga ngerti tinggal komen aja.



Share:

Nasihat Tentang Cinta dan Hubungan

Photo by Jasmine Wallace Carter on Pexels.


Berbicara tentang cinta, pasti tidak lepas dari relationship (hubungan) lawan jenis. Mereka yang memadu kasih, sudah barang tentu akan mendulang keindahan dari cinta yang mereka berikan pada satu sama lain.

Tapi, toh setiap hubungan pasti akan dihadapkan pada suatu permasalahan. Dari yang ringan sampai yang berat. Membuat kita berpikir ulang; apakah benar dia orang yang selama ini kita cari? Apakah dia tepat untuk kita?

Kala hubungan cinta kita sedang dirundung masalah, solusi terdekat adalah berbagi cerita dengan kawan dekat, ataupun mengingat nasihat-nasihat tentang cinta dan hubungan yang pernah kita terima. Berikut, saya tuliskan beberapa nasihat tentang cinta dan hubungan. Beberapa di antaranya, mungkin saja adalah nasihat cinta terbaik yang akan kamu baca/dengar.


Nasihat tentang cinta dan hubungan untukmu:


“Cintai kekurangan pasanganmu, maka cintamu akan abadi.”

"You can tell me anything, everything, even its nonsense."

"Love hurts sometimes, when you do it right. Dont be afraid of a little bit of pain, pleasure is on the other side." -John Legend
“Mau sesayang apapun sama anak, tetep harus lebih sayang sama pasangan, karena suatu saat anak bakal punya hidupnya sendiri dan yg tersisa hanya kamu dan pasangan.”

“Mungkin begitupun dengan orang tua. Kalo cuma boleh milih satu, dapet mertua baik atau pasangan baik, ya pilih pasangan baik, krn mau sebaik apapun mertua, yang bersama lo tiap hari adalah pasangan lo.”

“Apapun yang lo denger dari luaran sana tentang pasangan, baiknya ditanya langsung, atau disimpen aja sampe pasangan lo yang cerita sendiri. Itu pentingnya punya pasangan yang bisa dipercaya dan transparan dalam hal apapun.”

“Three ways to live a happy marriage: good communication, transparency, great sex.”

“Kita ga akan bisa merubah orang, walaupun itu pasangan kita. Karena, sejatinya kita bukanlah panti rehabilitasi.”

“Kalau kamu udah disakiti, dikecewain berulang kali, dan cerita lama berulang-ulang begitu banyaknya. That’s a pattern! Dia bakal selalu kayak gitu sampe seterusnya. Tinggalin kalau kamu emang udah muak. Jangan bego, ya! :)”

“Kesalahan terbesar dalam menjalin komitmen. berlomba-lomba menjadi yang paling cinta. padahal untuk tetap bersama, kita hanya butuh saling menjaga.”

“Kasmaran itu paling cuma tahan 3 bulanan. Sisanya, ya komitmen dengan hubungan. Ya, apalagi kalau pasanganmu memang serius sampai ke pernikahan.”

“Saat menyukai seseorang, ingatlah satu hal. Senang, dan sakit itu sudah sepaket. Jadi, jangan menyesal jika nanti kau hadapi keduanya.”

“Jangan terlalu bersandar, kalau dia tiba-tiba pergi, kamu kejengkang :)”

“Kalau sudah berpasangan, jangan coba-coba iseng cari-cari yang lain. Karena, kamu akan banyak menemukan yang lebih wah dari pasanganmu.”

“JANGAN PERNAH main tangan ke perempuan!”

“Patah hati jangan kayak orang gila, bikin malu keluarga aja lu, udah susah-susah diurus sampe cakep, juga”

“Kalau kamu dijahati sama dia, jangan dibales jahat juga. Intinya, kamu jangan jadi jahat karena luka hati.”

“Sebelum menikah, coba deh jalan-jalan jauh sama pasanganmu. Ya, gak usah living together, yang penting bareng aja selama beberapa hari. Di situ, lihatlah kemampuannya dia mengatasi situasi dadakan yang di luar planning. Kalau di situ saja udah gak lolos, malah bikin dia panik dan marah-marah ke kamu, mending pikir-pikir lagi untuk serius dengan pasangan kamu. Karena hal-hal yang kelihatannya seperti kerikil, kalau ditimbun tiap hari, ya jadi bukit juga. Banyak-banyakin komunikasi, ya!” -Catwomanizer

“Cari pasangan yang baik, ganteng bisa jadi jelek. Kaya bisa jadi miskin. Tapi, yang baik gak akan pernah meninggalkan di saat terpuruk” -Raditya Dika

“Meminta maaf tak selalu berarti salah. Tapi, sadar kalau ada yang lebih berharga daripada amarah dan ego. Jadi, jangan sungkan to say sorry first.”

dan, terakhir..

“If you love something, let it be, and let it go. If it returns, it’s yours. If it doesn’t, then it wasn’t yours. As simple as that.”



Dikumpulkan dari berbagai sumber dan tweet
Share:

Adil Sejak dalam Pikiran sebelum Bersosmed

Photo by Adrianna Calvo on Pexels.


Kehidupan di sosial media itu keras. Di sosmed, pengagguran aja bisa kelihatan keren dengan cara memotivasi orang, padahal diri sendiri aja hidupnya ga karuan.
Di sosmed sok tegar, padahal di kehidupan nyatanya aja, pasang regulator gas elpiji udah gak mau karena ketakutan gas bakal meledak.
Saya pernah kenal orang, dia naik gunung lalu caption di sosmednya dia bilang,
Masa daki gunung gini aja gak bisa? Haaah dasar payah dasar lemah!”
Dia sempat seperjalanan bersama saya ketika naik gunung. Tahu apa yang terjadi? Sepanjang perjalanan pulang dia kelelahan dan mengeluh tidak bisa jalan, hanya bisa tiduran termenung sambil meracau di tenda.

Sebenarnya, hak siapa aja sih, mau share apapun di sosmed asalkan masih dalam kaidah-kaidah kesopanan. Maka dari itu, jangan cepat terpancing pada suatu kiriman di sosmed. Sosial media bukan WYSIWYG (What you see is what you get). Kadang apa yang orang lain perlihatkan di sosmed bukanlah yang sebenarnya ada dan terjadi dalam hidupnya. Karena ada orang yang termotivasi hanya membagikan hal positif di sosmed, that's why kita melihat hidup orang itu rasanya cuman senang-senang aja. Yang gak enaknya ya diskip. Ga perlu orang lain tahu.

Hal terpenting menurut saya, jangan terlalu ingin mencampuri urusan orang lain. Jangan kepo berlebihan. Saya bisa ngomong gini emang karena saya udah pernah mengalami banyak hal, termasuk melakukan kebalikan dari dua hal yang saya sebut tadi.
Urusan orang lain, jika kita tahu sedikit saja, percaya deh kita pasti ada keinginan untuk mencari tahu lebih jauh. Itu normal karena memang seperti itu sifat alamiah manusia; selalu mencari. Maka dari itu, jangan terlalu banyak mencari tahu. Toh bisa saja hal tersebut malah mengaktifkan penyakit hati yang sudah dormant dalam diri kita. Nanti kita ngiri, komen yang ngga-ngga, dan jadilah kita seperti netizen yang maha benar dengan segala komentarnya.

Apa yang kita yakin benar, suarakan saja, jangan takut dan gengsi.
Toh untuk menilai benar atau tidaknya tindakan yang akan kita lakukan, kita sendiri punya common sense. Sesuatu yang tidak perlu diajarkan lagi, apalagi umur sudah 20 ke atas. Maka dari itu, dalam bersosmed, bahkan dalam hal apapun, berlakulah adil sejak dalam pikiran.
Share:

Visitor Count