Berkarya | PODCAST INSIDE


Karya.
Karya di masa kini sudah merupakan kartu nama bagi kita untuk diperlihatkan ke orang lain. Pada zaman ini, yang sangat membutuhkan inovasi dan kreasi untuk kita bisa bertahan hidup, bisa berkarya merupakan 'sunnah muakad' bagi kita semua. Bahkan bisa menjadi wajib jika kita memang mencari penghasilan dari berkarya.
Namun, bagaimanakah dengan kita yang baru saja ingin memulai berkarya?
Bagaimana jika karya pertama kita hasilnya tidak seperti yang kita harapkan?
Bukankah sangat mengecewakan jika kita berkarya, tapi like, view dan apresiasi sangat sedikit?
Tenang.
Kita-kita yang mengalami itu tidak sendirian.
Bagaimana pandangan saya sebagai pekarya yang masih amatiran ini, memandang hal tersebut?
Mari dengarkan pendapat saya di podcast Misty Poems episode kedua ini.
Silakan klik di tombol play di bawah ini.

Share:

INDONESIA DARURAT KOMEDI

Sekali lagi, bangsa ini kalah dan mundur langkah. Silakan banggakan slogan "Bangsa Yang Besar", meski nyatanya hanya dipenuhi kumpulan besar para fanatik yang siap menjegal dan membelenggu saudara sendiri. Muslim dan Coki yang kini mundur dari dunia komedi dan Majelis Lucu Indonesia, hanya korban kecil kefanatikan mereka. Boleh jadi yang terdampak ringan. 

Tidak ada yang menang melawan gelombang kegelapan ini. Instrumen hukum gagal melindungi, para politisi mencari aman demi target jumlah suara, bahkan sekelas presiden pun impoten demi memperpanjang periode bertahta. 

Dear, konservatif militan. Silahkan nikmati kemenangan kalian menindas manusia lain. Saya yakin kalian tidak akan berpuas sampai di sini. Musuh-musuh baru akan kalian ciptakan lagi di esok hari. Awalnya hanya menarget kelompok agama di luar agama kalian dengan membatasi kebebasan beribadah mereka, kelompok sosial marjinal yang kalian belenggu hak hidupnya, minoritas syiah dan ahmadi yang kalian porak-porandakan, juga kelompok mazhab dan/atau manhaj lain yang kalian musyrik-musyrikkan dan kafir-kafirkan. 

Kelak ketika semua 'musuh' kalian berhasil dihabisi, kalian akan mulai saling 'bantai' di rumah sendiri. You'll fight against your own kind. Because that's what you do. You 'destroy' everything. Ruh pergerakan kalian adalah pertikaian dan darah. Sejarah telah banyak mencatat 'kebrutalan' para fanatik. 

Selamat datang di 'era kegelapan', my fellow Indonesians. Di mana sel kanker radikalisme makin menjalar dan menyusup di segala lapisan masyarakatnya. Berbungkus romantisme hijrah dan cinta syariah, Indonesia siap melanjutkan suksesi Suriah dalam mencapai kehancuran.


**
Allah itu maha pengasih lagi maha penyayang, tapi kenapa kita umatnya maha mencaci lagi maha membenci ?
Bagi saya, tawa yang dirampas ternyata sama menyakitkannya dengan dirampasnya harta benda.

Selamat, kepada kaum-kaum provokator munafik berkedok agama, yang senang melakukan ujaran kebencian, persekusi, mengobarkan keributan dan kekacauan berkedok bela agama.

Kalian telah berhasil merampas kata toleransi dari bumi pertiwi ini.

Kata-kata umpatan dari kalian yang biasa terdengar di sosmed, "Bodoh, Ya Kadzab, Tolol, Ga pernah ke majelis ilmu, belajar lagi, islam ktp lu bangsat!" 
Atau semacam, "Dari komen lu yang sok bela mereka ketahuan lu orang seperti apa, munafik… gausah bawa-bawa agama goblok! Darah lu halal anjing bangsat! Nih orang mengobarkan peperangan, seluruh umat akan bersatu melawan anda!"

Sesungguhnya perkataan di atas tidak sama sekali mencerminkan ISLAM!
ISLAM adalah agama yang dirahmati dengan dasar kecintaan terhadap Tuhan, Nabi, dan sesama makhluk hidup. Budaya Islam ialah beragama secara santun, menghargai satu sama lain termasuk perbedaan yang ada dalam kehidupan ini.
Yang merusak islam adalah tindakan intoleran, budaya yang mudah menyalahkan dan mencaci-maki, menyebarkan provokasi serta kebencian.

Memang mengingatkan orang yang sudah salah itu boleh. BOLEH.
Tetapi dengan kalian mengumpat.
Kalian sudah bertentangan dengan apa yang kalian sendiri bela.
Maka dari itu, silakan rayakan kemenangan kalian.
Kami, yang percaya toleransi terhadap sesama akan terus ada dan bertambah.
***





**tulisan ini merupakan elaborasi dari komentar saudara youtuber, yang memiliki channel "The Corrs".
Share:

PUISI: Di Hadapan Perempuan Perengkuh Jarak

Image by Luizclas - Pexels

Bukankah sudah pernah kuresahkan padamu
Tentang melankolia yang datang dari aksara
Juga tentang jarak yang mengiris cahaya
Semata hanya untuk mencari bibir yang menipis karena melukis

Kepadamu, wanita yang baru saja merayakan kesedihan;
Pulas saat malam, terbius aroma parfum tadi sore,
Dengan wajah tercetak kerut seprai;
Bait sunyi dari tatapmu mendatangiku. 
kuat-kuat ku menggigit bibir
saat di antara kita tertiup badai
dan kita berpura-pura

bahwa hati ini bertutur keluh menjaga khawatirmu.
dan dengan tabah tak berkisah apa-apa

Cerita-rahasia pendek di antara kita
Tertulis, terkatakan, termaktub, dan kini
ia punya suara
membuatku merasa tidak ada di mana-mana
sekaligus membuatmu terdengar di mana-mana

mungkin saja kau adalah aku, dan
aku adalah seikat nada yang Tuhan kirim untuk
merawat ronta kesepianmu
dan, sekali lagi,
mari renungi ketidakberdayaan kita
mari sejenak termenung,
kita terjebak dan tak bisa melakukan apa-apa.

Kepada malam yang mengigilkan ingatan
Kepada jarak yang mengundurkan sentuh
Kepada perasaan yang harusnya tak dipermainkan;


Siapakah di antara kita yang paling takut ditinggalkan?

**
Musikalisasi:


Share:

Menghindari Debat di Sosial Media (PODCAST INSIDE)

Sudah banyak perpecahan, kegaduhan dan keributan yang terjadi, disebabkan oleh debat yang tak berfaedah dan tak berujung di sosial media.
Kebiasaan ini banyak dilakukan oleh orang-orang dibalik fake account (akun palsu), bertujuan untuk melawan, menghalau, memaki-maki, dan menjelekkan orang yang memiliki opini berbeda dengan si akun pelawan tadi.

Akhirnya terjadilah adu pendapat yang tidak lagi berdasar etika dan ilmu. Melainkan berdasar olok-olok, kata-kata kasar dan kebencian serta makian-makian pedas.
Perdebatan tersebut bukan lagi menjadi diskusi, melainkan ajang adu kalimat kasar dan siapa yang terlihat lebih kuat dan menang.

Perdebatan seperti ini tidak ada outputnya, juga tidak ada gunanya. Dan akan merusak kesehatan mental kita, serta mengubah perilaku kita ke arah yang negatif.
Kebiasan debat seperti ini harus dihentikan.
Di podcast ini, saya menjelaskan pandangan pribadi, mengapa perdebatan di sosial media lebih baik kita hindari.
Share:

Saya Kapok Ikutan Debat di Sosmed


Sulit menanggapi debat netizen di dunia maya.
Saya tulis pendapat, pernyataan, dan pertanyaan saya dengan santun.

Ternyata mereka terbiasa membalas dengan umpatan, kata2 kasar, makian dan judgement.

Minimal, saya dijudge tidak pernah ikut majelis ilmu, tidak pernah belajar, tidak sekolah dan bodoh.
Pada akhirnya, saya dilabeli kata goblok.

Maka dari itu, saya kapok ikutan debat di sosmed.
Bukan karena saya takut, tapi saya tahu kehidupan di dunia nyata jauh lebih penting.
Dan, mereka yang mbacot itu belum tentu berani jika berhadapan dan beradu argumen secara nyata.

Karena rata-rata mereka.. hakim keyboard!

Udah, pokoknya kapok!


.
gambar di atas hanya ilustrasi.
Share:

Kllo - Last Yearn Lyrics


I've been hanging round for days
'Til you come back to me
Let me feel your warm embrace
I won't take it for granted
Everything is set to be
It's been going round for weeks
Cause for you I am certain
But don't you worry, worry, worry about me
Just stop me worry, worry, worrying

Where are we going
I need some closure from you
Where do we go from here
Blackbird is calling
Keep on keep yearning for you
Where do we go from here
Love

Hope you're going well out there
I'm thinking of you
Good to hear you've settled so fast
And the sun keeps shining
Well there's a cloud on top of my head
Since there's creases on your side of our bed
I am longing for you

Where are we going
I need some closure from you
Where do we go from here
Blackbird is calling
Keep on keep yearning for you
Where do we go from here

Don't you worry, worry, worry about it
Don't you worry about where we're diving from

Where are we going
I need some closure from you
Where are we going from here
Love
Where are we going
I need some closure from you
Where do we go from here
Love

I need some closure, closure, closure
The sun don't shine, when you're away
I just want to make you happy
It's been running round my head all day
But don't you worry, worry, worry
About me, about me, about me
Don't you worry, worry, worry
About me, about me, about me
I'm yearning from you


Kllo - Last Yearn from 'Backwater' album


Share:

Review film Venom (2018) ANTI-SPOILER!


Menurut SAYA banyak orang-orang yang nonton film ini, frame of reference-nya masih berkiblat ke Marvel Cinematic Universe (MCU). MCU jadi standar. Studio yang garap Venom ini Sony. Dan Sony beberapa kali messed up dengan film-film marvel. Jadi belum apa-apa, nonton juga belum, beberapa mungkin udah underestimate sama filmnya.

"Alah, yang garap sony. TASM aja dulu jelek, bro. Coba kalo masuk MCU. Bagus nih film,"
Mungkin, ada beberapa yang masih punya pikiran seperti ini?

Bukan masalah fans marvel sejati atau cuma fans-fans ngaku-ngaku doang.
Bukan masalah udah baca komik dan paham karakter di komiknya seperti apa.
Tapi, kalau mau membandingkan sesuatu, memang harus apple to apple.

Menurut saya jika ada orang yang membandingkan film MCU dengan satu film marvel di luar MCU, ya sudah tidak apple to apple. Film ya film. Komik ya komik. Komik hanya bisa dianggap referensi, tidak bisa dijadikan bandingan.

Saya ga bilang yang tidak suka film ini berarti melakukan hal tersebut. Saya bilang, "jika ada orang yang masih membandingkan."

Review kebanyakan orang mungkin kurang menyukai film ini. That's OK.
But it's OK too kalau kamu mau bilang film ini bagus dan memenuhi ekspektasi kamu yang haus akan hiburan dari Marvel. Saya termasuk orang yang menyukai film ini. Meskipun memang ada beberapa kekurangan yang bikin saya nanya "Lho, kok gini?", toh pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu masih bisa saya maklumi. Film ini masih dan sangat layak untuk di tonton daripada kamu ngga ada kerjaan di rumah.

7.5/10 kalo dari saya.

MENGAPA SAYA SUKA FILM VENOM?
Hubungan Eddie Brock (Tom Hardy) dan Venom Symbiote terbilang sangat mantap. Mereka cepat akrab dan bonding-nya cukup pas, terikat satu sama lain. Scene aksinya juga cukup oke dan seru, bikin nonton filmnya jadi fokus. Pembangunan karakter Eddie pun tidak terlalu bertele-tele, singkat tetapi cukup untuk menjelaskan apa yang menjadi sebab Eddie 'ketempelan' Venom Symbiote. Tom Hardy sangat cocok memerankan Eddie Brock. Sebagai jurnalis slengean, tidak kenal takut dan banyak penasaran. Eh, abis itu karirnya hancur. Eddie Brock di sini digambarkan sebagai orang yang berkarakter pasif-agresif. Diam-diam, diusik langsung sergap! Sangat cocok cara bicara, ekspresi wajah dan gerak-gerik Tom Hardy, bahkan pada film-film dia yang sebelumnya.

YANG SAYA RASA KURANG DARI FILM VENOM
Rated PG-13 membuat film Venom masih bisa dikategorikan family-friendly, apalagi banyak diselipkan humor-humor yang 'lumayan' (bisa membuat bibir bergerak ke samping kiri sedikit). Saya harap Venom harusnya rated R, supaya kelihatan lebih 'gore', dan menunjukkan betapa violent-nya si Venom ketika menghabisi lawannya.

Persona Anne Weying (Mantan kekasih Eddie Brock) mantap, apalagi ketika dia telah mengetahui segala tentang Venom. Namun, hubungan antara Anne dengan Eddie saat masih bersama, menurut saya masih kurang chemistry. Entah mengapa keterikatan mereka kurang terasa untuk saya, meskipun akhirnya mereka juga putus dan tetap berteman.

Ada beberapa karakter yang harusnya bisa dikembangkan lebih jauh, tapi malah dibuat mati begitu saja. Karakter yang dibuat mati cepat itu, adalah salah satu 'kunci' terlahirnya Venom yang menempel bersama Eddie Brock. Sayang beribu sayang. Jika saja beberapa karakter tidak dibuat mati cepat, bisa saja ending dari film Venom ini lebih dramatis. Tidak berakhir agak mudah dan agak cepat seperti di film Venom itu sendiri.

(c) 2018 R. Eris Prayatama
Share:

Bersama Batik Melukis Sejarah Cantik

Kita semua tentu tahu batik. Suatu pola yang didominasi oleh garis meliuk berbelok nan elok, dengan mudah kita temui di mana saja pada berbagai medium, salah satunya pakaian. Seringkali, motifnya yang nyeni dan rapih, membuat kita menyimpan pakaian batik di dalam lemari. Hal tersebut bertujuan agar pakaian batik kita siap sedia jika ingin dipakai. Sebagian orang memakai batik pada kegiatan formal, semisal menghadiri undangan pernikahan, saat bekerja di hari tertentu, atau saat ingin menyambut tamu kehormatan yang datang ke tempat kita. Dari sini kita sadari, bahwa batik selalu ada dalam setiap proses hidup kita. Batik melengkapi perjalanan hidup kita. Batik membantu kita melukis sejarah hidup ini.

Saat menulis tulisan ini, saya teringat akan sejarah delapan tahun lalu. Saat itu, saya bersama dua kawan saya terpilih mewakili Kabupaten Cirebon dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS), bidang debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Barat. Tiga hari sebelum hari keberangkatan, seluruh siswa kontingen LKS Kabupaten Cirebon dikumpulkan. Kelompok saya termasuk siswa-siswa lain diberikan uang bekal, buku panduan, dan yang paling spesial ialah satu kemeja batik Cirebon dengan motif yang indah. Berkualitas baik, dan desain motif batiknya yang rapi membuat saya yakin, batik ini berasal dari sentra batik terbesar di Cirebon, Jawa Barat, atau bahkan Indonesia, yaitu sentra batik di Desa Trusmi. Ada banyak toko batik di sana, salah satunya seperti gambar di bawah ini.


Sentra batik terlengkap dan terbesar di Cirebon
Begitu membanggakan rasanya, berdiri bersama perwakilan siswa-siswi terbaik dari Kabupaten Cirebon, berbagi cerita singkat karena merasa memiliki kesamaan pengalaman. Begitu terhormat, karena saat itu yang resmi melepas keberangkatan kontingen LKS Kabupaten Cirebon adalah pejabat penting pemerintahan, yakni Sekretaris Daerah dan Kepala Dinas Pendidikan. Uniknya, semua yang hadir pada acara pelepasan tersebut, semuanya memakai batik yang sama. Batik berwarna coklat pudar yang membuat mata tak jengah memandangnya.

Singkat cerita, saya bersama tim saya gagal meraih kemenangan di lomba Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Barat. Namun, saya tak pernah lupa ketika itu. Salah satu juri mengatakan performa saya cukup baik. Beliau pun berkata, bahwa pakaian batik yang tim saya kenakan berkualitas bagus. Membuat wajah kami nampak lebih cerah. Beliau sempat menanyakan tempat memesan batik ini. Spontan, kami langsung menjawab, "Cirebon, di desa Trusmi.”

Perkataan sang juri itu cukup menjadi pelipur lara saya dalam menerima kekalahan. Tentu, saya memutuskan untuk simpan batik tersebut. Saya akan memakainya pada acara yang membutuhkan peningkatan penampilan. Seperti saat ingin berbicara di depan umum, ke undangan pernikahan rekan sejawat, dan acara resmi lainnya. Sampai saat ini, batik tersebut masih ada di lemari pakaian saya. Suatu kehormatan, memiliki salah satu batik Indonesia karena terpilih sebagai insan pendidikan untuk berlomba di ajang bergengsi tingkat provinsi.
Batik kebanggaan yang menjadi seragam kontingen LKS Kabupaten Cirebon Tahun 2010.
Saat saya sudah duduk di bangku perkuliahan, beberapa kali saya sempat melakukan wisata Cirebon. Sebagai orang yang lama tinggal di Cirebon, sudah seharusnya saya mengenali budaya setempat. Saya bersama kawan-kawan beberapa kali mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Cirebon dan Wilayah III Cirebon. Empat Keraton Cirebon, Gua Sunyaragi, Museum Linggarjati, dan tempat lainnya tak absen saya datangi. Dari semua perjalanan tersebut, saya memakai pakaian batik. Kadang, saya kenakan batik bersejarah yang saya ceritakan di atas. Tak jarang pula, saya kenakan pakaian batik yang saya beli di Kompleks toko batik yang ada di Trusmi, Cirebon

Megahnya salah satu sentra batik terbesar di Cirebon, Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
Tanggal 2 Oktober, kita ketahui sebagai Hari Batik Nasional. Hari yang didedikasikan sebagai apresiasi penuh pada karya seni batik, karena batik telah menjadi pesona Indonesia. Berbagai macam batik dari seluruh Indonesia telah banyak dikenal di mancanegara. Memang sudah sepantasnya Indonesia dikenal karena karyanya. Batik adalah semacam kartu nama bagi Indonesia.

Saat saya masih kuliah pun, pada tanggal 2 Oktober saya tak pernah lupa menggunakan produk batik yang saya beli dari salah satu sentra batik cirebon. Mengingat harga produk dari sentra batik itu sangat terjangkau dan berkualitas baik, saat membutuhkan produk batik saya selalu percayakan ke banyak sentra batik yang ada di sana.

Maka dari itu, tidak berlebihan jika saya bilang, bahwa batik secara tidak langsung telah ikut serta dalam membangun diri saya dan melukis sejarah hidup saya. Acara-acara penting yang harus saya hadiri, saya juga mengenakan batik. Penampilan saya terdongkrak menjadi lebih baik saat saya menggunakan batik. Kepercayaan diri saya meningkat berkali-kali lipat saat mengenakan batik. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Akhir kata, izinkan saya untuk menegaskan semuanya. Pakaian dan produk batik lainnya, secara tidak langsung telah menemani berbagai lini hidup saya. Saat saya masih duduk di bangku sekolah, mengikuti lomba bergengsi mewakili Cirebon, saat kuliah, dan hingga saat ini sudah bekerja. Batik berkontribusi pada sejarah-sejarah cantik yang saya buat. Batik telah menjadi semacam kosmetik yang membuat diri ini terlihat lebih estetik nan kharismatik.

Percayalah, batik membuat semuanya menjadi lebih baik.*
Share:

OPINI & ARTIKEL: I See Humanity with No Humanity


Bersamaan dengan terbitnya tulisan ini, penulis ingin menyampaikan duka cita terdalam untuk almarhum yang menjadi korban pengeroyokan bengis oleh oknum bobotoh.

Pertarungan sarat gengsi antar klub sepakbola Persib vs Persija, Minggu (23/9) berakhir dengan kemenangan Persib dengan skor 3-2 atas Persija. Namun, kemenangan tersebut diiringi dengan berita tragis, mengerikan juga menyedihkan. Bagaimana tidak, seorang Jakmania (sebutan fans persija, red) harus meregang nyawa karena dikeroyok oknum bobotoh.

Adalah Haringga Sirilla, warga Cengkareng, Jakarta Barat. Almarhum adalah seorang Jakmania yang ingin sekali menyaksikan Big Match antar Persib Bandung kontra Persija Jakarta. Terlihat dari Instastory almarhum yang memperlihatkan sebuah gambar boarding pass kereta api dengan jadwal keberangkatan dari Gambir menuju Bandung. Tertulis di story tersebut, “Jangan biarkan macan berjuang sendirian. #PersijaDay.”

Peristiwa tersebut bermula ketika ada sekelompok bobotoh yang meneriaki seseorang diduga jakmania. Ya, orang yang diteriaki itu adalah Almarhum Haringga Sirilla. Almarhum kemudian berlari mencari pertolongan. Keadaan yang begitu ramai membuatnya sulit menemukan tempat aman, pencarian gagal. Ia dirundung oleh sekelompok bobotoh. Dipukuli, diinjak, dipukuli lagi, diinjak lagi, dipukul lagi menggunakan kayu, piring, dan ada juga botol kaca. Diinjak lagi, dipukul lagi, hingga berlumuran darah... lalu sang jakmania meregang nyawa. Di tangan bobotoh.

Fakta yang sangat mengejutkan terungkap saat penulis melihat video viral yang mempertontokan aksi tersebut. Ternyata, bobotoh yang melakukan aksi keji dan biadab tersebut, banyak yang masih ABG! Anak kecil! Bocah-bocah labil yang mungkin tidur saja masih harus dikeloni oleh mamahnya! Banyak dari mereka yang hanya diam, bahkan menikmati pertunjukan menjijikkan dari bobotoh itu! Lebih gilanya lagi, mereka yang dengan nikmat menghabisi nyawa korban, termasuk yang hanya menonton, melakukannya dengan kalimat tauhid! Laa Ilaha Illallah! Para oknum bobotoh 'sinting' itu membunuh saudara sebangsanya sendiri seolah-olah mereka sedang membunuh musuh bebuyutan agamanya.

Kini, kita bisa melihat realita yang sungguh membuat getir. Bahwa banyak manusia di dunia ini. Namun, beberapa dari mereka tidak memiliki kemanusiaan. Realita ini memang ada dan harus kita terima dalam kehidupan ini. Kenyataan yang juga sungguh sangat menyakitkan bagi keluarga Almarhum. Melihat anggota keluarga kesayangannya harus meregang nyawa dengan cara demikian. Di tangan para bocah. Oknum bocah bobotoh yang tak berlebihan jika kita sebut biadab!

Jika begini, masihkah Indonesia mampu untuk bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika? Masihkah Indonesia mampu bersatu? Anak mudanya saja malah sibuk saling membunuh karena berbeda! Sibuk saling melukai karena alasan yang tak logis! Orang-orang dewasa dan seniornya masih mudah terhasut! Masih saja mendiamkan ketidakbenaran! Masih senang mengutuki kegelapan ketimbang menjadi lilin di tengah gelap gulitanya dunia.

Jawabannya? Tergantung kita sendiri. Saya pribadi? Saya katakan Indonesia mampu, Indonesia tetap bisa berdiri di atas segala perbedaan meski konflik akan selalu ada. Selama orang-orangnya mau berusaha berdamai dengan perbedaan. Mau bersahabat dengan perbedaan. Bisa menahan keinginan untuk bullying dan mengeluarkan hate speech yang sebenarnya tak perlu. Mampu menggunakan akal sehat ketimbang menuruti nafsu untuk menghabisi.

Kasus mengerikan tersebut seharusnya menjadi tamparan bagi kita semua. Semua elemen masyarakat. Pemerintah, ormas, media, ataupun masyarakat sipil. Bahwa mayoritas dari kita masih mudah tergesek emosi. Bahkan untuk hal-hal yang tak masuk akal sekalipun. Kita semua masih jauh dari sifat saling menerima dan saling menghargai. Mengingat kasus pengeroyokan fans sepakbola ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Berulang kali kasus seperti ini telah terjadi dan selalu memakan korban.

Tak bisakah kita hidup berdampingan meski kita berbeda dari segala sisi? Apa sebegitu sulitnya menerima indah perbedaan, sampai harus membunuh yang berbeda golongan dari kita? Apa kita tak punya kemampuan untuk sejenak menahan emosi, sebelum menyalurkannya dengan cara bijak nan tepat? Tak mampukah kita untuk meredam hasrat merundung orang lain yang lebih lemah dari kita? Kalau semua pertanyaan tadi, jawaban kita adalah “tidak bisa”, maka hal yang harus kita lakukan ialah, secepatnya bertanya pada diri sendiri.

“Sudah berapa lama saya hidup di dunia? Untuk apa saya hidup di dunia?”

Toh, lamanya kita hidup memiliki tujuan pun, tak cukup membuat kita bijak menanggapi persoalan dan perbedaan.

Sudah saatnya kita bertarung melawan ego kita sendiri. Sudah saatnya mengubur kisah-kisah lama yang sudah tak relevan dengan hidup kita sekarang. Sudah saatnya kita membuang jauh kebencian dalam hati kita.

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk terbuka terhadap perbedaan, meskipun perselisihan akan selalu terjadi. Tak ada salahnya membuang sisi diri kita yang mudah terhasut dan suka merundung. Gantilah dengan pemikiran yang terbuka dan tak terlalu ofensif. Sejatinya, persatuan atas perbedaan adalah kunci dari segala kedamaian. Berpikir jernih adalah sebaik-baiknya cara untuk meraih penerimaan terbaik atas perbedaan. Bukan dengan caci maki, bukan dengan pertumpahan darah.

Kita tak perlu menjadi matahari untuk menyinari yang lain, siapa tahu kita akan terbakar karena pada akhirnya kita takkan mampu. Dan akhirnya bumi kehilangan malam-malamnya. Kita tak perlu menjadi bulan yang memiliki sisi tergelapnya. Karena, sejatinya kita bisa menjadi siapa saja. Kita bisa jadi bobotoh, kita bisa jadi jakmania. Seharusnya kita bisa bersebelahan. Dan sebaiknya kita mulai dari hari ini.*



(c) 2018 R. Eris Prayatama
Dilarang copas, sepintar apapun anda copas, akan ketahuan.

Share:

OPINI: Toleransi dan Pluralisme, Solusi Kemelut Agama

Photo by Public Domain Photography on Pexels

Kalau keberadaan agama harus dibela dengan kekerasan, apa sumbangsih hal tersebut kepada peradaban manusia? Jika simbol atau praktik formal menjadi tolak ukur ketaatan, kapan agama bisa mengantar pemeluknya menuju pada penerimaan pluralitas? Kalau egosentrisme menjadi pilar pelukan manusia yang katanya beragama, bagaimana bisa agama ikut membangun institusi-institusi soaial yang adil?

***

AGAMA sering tampil dalam dua sisi. Sisi-sisinya bermusuhan. Sisi pertama, agama adalah tempat orang menemukan kedamaian, ketentraman hidup dan berbagai harapan. Di dalam agama pula, banyak orang terbantu kehidupannya. Tertopang kekuatannya, bahkan mendapatkan suntikan untuk melawan radikalisme mental yang membuat manusia saling menindas untuk memuaskan dirinya.

Di sisi lainnya, agama juga dihubungkan dengan fenomena anarkisme, lebih-lebih di Indonesia, bahkan sekarang ini di dunia internasional. Beberapa kaum menyatakan agama mengajarkan kedamaian dan melawan kebobrokan moral, tapi masih ada saja yang menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi, sehingga membakar kekerasan dan konflik. Bagaimana, supaya agama tidak dijadikan landasan pembenaran anarkisme?

Agama bisa diterima akal sehat sejauh dihayati oleh pemeluknya. Agama kan, menganjurkan pemeluknya untuk menghormati dan menghargai sesama manusia. Itu yang seharusnya dihayati. Tapi, kenyataan justru bercerita lain. Kita sendiri menyaksikan, bahkan dunia pun mencatat seberapa besar andil agama dalam membakar kebencian dan meniupkan konflik. Menghidupkan kesalahpahaman. Bisa dipahami, kalau memang sudah terjadi penghinaan dan kesemena-menaan terhadap kaum agana tertentu. Tetapi, kalau tidak ada angin apa-apa, tidak ada yang salah, malah menunjukkan kebrutalan mental yang mengatasnamakan agama? Budaya toleran nampaknya sudah habis di makan ideologi kasar yang mementingkan individualistis.

Klaim bahwa agama selalu mengajarkan perjuangan, pembelaan atau yang baik-baik, memang benar. Tapi seharusnya disadari oleh pemuka agama, antata ajaran agama yang dianut, dan tindakan itu berjarak. Tidak otomatis bagi keduanya bisa bersatu. Karena yang dikhawatirkan adalah timbulnya konflik.

Masih ingatkah, para pembaca, insiden penyiraman oleh juru bicara salah satu front agama terkemuka di Indonesia, kepada seorang sosiolog? Masih ingatkah, di saat seorang  Gubernur non-Islam ditolak ramai-ramai oleh Front agama tersebut? Pertanyaannya, haruskah semuanya tertuliskan demikian?

Dua sisi agama yang berlawanan tersebut, menunjukkan adanya hal yang bergerak di dalamnya. Hal-hal tersebut yang mendasari apa yang dilakukan manusia dengan dasar agama. Menurut penulis, setidaknya ada tiga hal. Pertama, ideologis landasan pemikiran, agama sebagai identitas dan ketiga, agama sebagai mentalitas tingkat kerja.

Pertama, agama sebagai ideologi. Inilah yang kerap kali menimbulkan konflik antar pemeluk agama. Baik dalam skala besar maupun yang terkecil. Menurut penulis, apabila sedang memperdebatkan agama, apalagi lawan bicaranya lintas agama, maka tidak bisa kita suntikkan dengan dalil-dalil agama yang kita anut. Akan percuma bagi mereka karena mereka sama sekali tak berpikiran serupa dengan kita, bahkan tidak mengenal agama kita. Menyuntikkan orang di luar agama kita atau yang setidaknya menolak agama, sama saja dengan menyiram api memakai bensin. Bukannya padam malah semakin menyala. Percuma, bukan?

Seharusnya bisa kita menundukkan lawan bicara kita yang lintas agama (dalam hal perdebatan agama), menggunakan argumen-argumen logis dan mengandung banyak fakta serta mengandung unsur persuasif agar menghendaki, atau setidaknya mau memahami dan mengerti pemikiran kita terhadap keyakinan agama tertentu. Tetapi, ini akan sulit terjadi apabila ada salah satu pihak yang tidak menerima pluralitas sebagai toleransi beragama. Istilah jawanya, saklek. Tidak mau mengganti ideologinya. Egosentris dan ethnosentris. Bukankah, toleransi senormal-normalnya bisa menciptakan keteraturan dan keselarasan hidup bersama? Meskipun pada akhirnya tetap harus ada aturan mainnya.

Kedua, agama sebagai identitas. Agama sebagai faktor identitas, dapat didefinisikan sebagai kepemilikan pada kelompok sosial tertentu. Kepemilikan ini memberikan stabilitas sosial, status, pandangan hidup, cara berpikir dan etos tertentu. Contohnya seperti Muslim Aceh, Katolik Flores dan Bali Hindu. Pertentangan antar etnis ini bisa melebar menjadi konflik antar agama. Mengapa? Karena identitas agama tak dapat terpisahkan dari ego, harga diri, atau harkat martabat suatu kelompok. Karena itu, jika identitas agama tidak dihormati, ia akan segera memicu konflik karena mengancam status sosial, stabilitas sosial serta kenyamanan pemeluknya.” (Haryatmoko, Etika Politik)

Ketiga, agama sebagai mentalitas tingkat kerja. Tidak ada yang salah bekerja dengan bermodalkan pengetahuan agama yang seberapa luasnya. Tidak ada yang salah. Namun, ada juga segelintir manusia yang menjual kepalsuan agama demi meraih keuntungan. Mungkin pembaca masih ingat, ada seorang ustadz yang mengaku membuka pengobatan alternatif, menjual titel ustadz dan pengetahuan agamanya, kemudian menipu seluruh kliennya? Apakah ini masih bisa disebut pantas?

Kalau agama hanya dihayati sebagai pengeruk keuntungan, jangan heran, bila ada segelintir orang yang bergelut di dalam dunia agama, malah miskin dalam keyakinannya. Jangankan prihatin ia tak mau menerima pluralitas, sesama pemeluk agamanya saja bisa ia bohongi. Sindrom ini yang harus dihilangkan, agama dimaknai sebagai ladang pengeruk keuntungan, bukannya media untuk menyebarkan keberkahan dan kemuliaan.

Bagaimana solusi atas segala permasalahan pemahaman agama yang menimbulkan konflik? Jawaban saya sendiri, toleransi.

Toleransi, kedamaian, komitmen kepada janji, ganjaran, dan pengampunan adalah nilai-nilai yang sangat ditekankan oleh agama.” (Haryatmoko – Etika Politik). Tapi, semua itupun bergantung kepada itikad baik yang pastinya sangat labil terdistorsi godaan untuk melakukan yang sebaliknya. Maka untuk menjamin hal tersebut, perlu adanya sistem yang mendukung dan menopang pluralitas. Mungkin hal ini ada di sistem demokrasi, tetapi memang nyatanya harus diperkuat lagi. Dan, tentunya harus dibarengi dengan aturan main yang sesuai. Sesuai terhadap apa yang masing-masing orang yakini (agamanya).

Komunikasi adalah kunci dari segalanya. Setiap bentuk komunikasi akan menghasilkan makna. Sikap kritis juga diperlukan dalam pluralisme, menandai kita aktif menyeleksi hal mana yang pantas kita terima dan maklumi, dan mana yang memang harus dilawan dengan rasio akal sehat. Dan pada akhirnya, komunikasi pula yang akan membentuk makna, apakah kiranya kita adalah orang yang benar-benar mau jika tercipta kedamaian? Juga menunjukkan, apakah kita benar-benar bisa untuk mempraktekkan pluralisme? Penulis sendiri pun, masih bertanya kepada dirinya sendiri.*



(c) 2015, R. Eris Prayatama
Dilarang copas, sepintar apapun anda copas akan ketahuan.
Share:

PUISI: Ucapan Selamat




Pernah kita bertukar kata tentang seperti apa dua tahun yang akan datang. Bagaimana cara kita menjadi sah tanpa sudah. Siapa nama anak pertama, menjaga rasa agar tetap sama meski nantinya kita tak seirama. Juga apa yang kauributkan setiap pagi nanti, tentang baju yang kukenakan, hidup seperti apa yang kita cita-citakan, hingga kebahagiaan yang rencananya ingin kaulukiskan.

Lalu pertukaran aksara itu kita tinggalkan. Oh? Kautinggalkan. Atas rasa jemu yang tak mampu kita kalahkan akhirnya perpisahan harus kita rasakan. Sempat kauragukan kita akan bahagia namun akhirnya kau yang bergembira mengakhiri penantian. Dia yang kau sebut cinta telah membuat diriku terlunta. Memaksaku menutup mata demi hati yang harus tertatih atas nama cinta. Euforia cinta barumu bagai busur panah yang siap membuat hatiku berdarah, marah, terjarah ditambah hilang arah.

Tak perlu kaurisaukan hati yang kautenggelamkan, berbahagialah selalu karena untukmu aku siap menanggung pilu. Kesedihanku tak perlu kauurusi, biarkan aku terlelap dalam delusi. Mengenangmu dari segala sisi tanpa perlu afirmasi.

Kabar baik kau udarakan. Bersamanya yang kau anggap sempurna, kau tak sabar membuat semua paripurna. Sudah, tak perlu repot mencariku untuk sekadar berkabar. Saatnya kubakar segala angan, biar semua menjadi abu berasapkan kenangan. Tak perlu lagi ada jabat tangan, dalam sunyi akan kuucap untukmu, selamat berpasang-pasangan.

Selamat untuk kita yang sempat saling cemburu, sambutlah haru dari gaun biru. Selamat tinggal untuk impian kita yang pernah terkekang namun akhirnya harus lekang. Semoga aku yang kaulepas tak membuat lelaki pilihanmu ikut terhempas.

(C) 2018 - eprayatama
Share:

Tips Berguna untuk Mahasiswa Baru!

September, enam tahun lalu, di bulan ini saya resmi menjadi mahasiswa di salah satu PTS ternama di Kota Cirebon. (Di Kota Cirebon loh, ya). Saya menjalani kehidupan perkuliahan dari 2012 hingga empat tahun kemudian, tepatnya di Juni 2016, saya resmi lulus berpredikat 'Dengan Pujian' lalu Agustus 2016 saya diwisuda.

Tentunya, keadaan pada tahun 2012 lalu, berbeda dengan keadaan sekarang (2018). Semuanya serba digital, apa-apa tinggal googling, youtube, dan berbagai cara mudah lainnya. Meskipun pada tahun 2012 zaman juga sudah canggih, harus diakui bahwa tahun 2012 tidak sedigital sekarang. Ponsel android belum begitu menjamur. BlackBerry masih merajai. Internet tidak sengebut sekarang.

Lalu, apa yang tidak berubah? Prinsip hidup kemahasiswaan, yang menurut saya masih belum banyak berubah. Nasihat-nasihat para alumni yang sudah lama pun, masih bisa kita terapkan dengan penyesuaian yang kita anggap perlu.

Nah, di sini, saya akan membagikan beberapa tips kepada pembaca sekalian, yang mungkin statusnya masih menjadi mahasiswa baru. Tips tentang bagaimana caranya menjalani kehidupan di dunia perkuliahan. Simpan saja dulu. Bookmark saja dulu laman situs ini, gratis kok. Siapa tahu, jika suatu saat ingin membaca, kamu bisa langsung ke laman situs ini tanpa perlu pusing mencari.

Berikut tips dari saya tentang menjalani kehidupan di dunia perkuliahan, sebagai mahasiswa baru:

1. IP Penting, tapi jangan didewakan!
Photo by Yogendra Singh on Pexels
Indeks prestasi (IP) memang penting, tapi tak perlu kita dewakan. Pada akhirnya, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hanyalah sekadar angka yang kalian dapatkan sesuai dengan usaha kalian dalam menjalani kegiatan akademik di kelas. Jagalah IP agar tidak terlalu rendah. Boleh pasang target tinggi sebagai motivasi. Tapi, sekali lagi jangan didewakan. IP dan IPK tidak selalu jadi penentu kalian pintar atau tidak. Keliru juga apabila kita berpikir kalau IPK tinggi maka kita nanti akan sukses setelah lulus. IPK tentu membantu dalam proses kita mencari kerja nanti. Tapi, yang nomor satu adalah skill dan seberapa keras usahamu mengejar kesuksesan.

2. Perluas pergaulan, tambah banyak teman!
Photo by Rawpixel on Pexels




Untuk apa kuliah jika temanmu tidak bertambah? Memang, teman dan sahabat itu cocok-cocokan. Tapi relasi harus diperluas dan dijaga dengan baik. Minimal kita mencoba untuk menjaga hubungan baik dengan semua orang. Memang tidak bisa semuanya. Tetapi, minimal kita akan punya banyak orang yang bersikap netral atau bahkan senang kepada kita. Banyak lho contohnya, ketika sudah lulus nanti. Kita ditawari pekerjaan dan proyek profesional oleh teman yang justru tidak dekat-dekat amat dengan kita. Nah, di situ tujuannya memperluas relasi. Memang dampaknya tidak kita rasakan saat ini juga, namun suatu saat bisa saja semua itu menjadi sangat berguna.

3. Kuliah tidak semata mengejar ilmu, tapi juga memperluas pola pikir
Photo by Pixabay on Pexels


Banyak-banyak baca buku. Terserah genre bukunya apa, utamakan buku-buku yang berisikan karya dan pemikiran seseorang. Membaca karya seseorang dapat berarti menyelam ke alam pikir si pembuat karya tersebut. Lalu perbanyak ngobrol dan diskusi bareng teman. Menurut saya, membaca buku dan berdiskusi juga berkesempatan membuat kita melihat sesuatu hal dari berbagai perspektif. Ada kalanya kita egois akan pendapat dan keyakinan kita. Namun, manusia itu dinamis. Dari situlah kita berkembang dan belajar. Sekarang, mungkin karena baru lulus SMA/K, kita masih merasa sangat hebat dan kuat. Lambat laun, kita sepatutnya sadar bahwa ada pihak-pihak lain yang keberadaannya harus kita hargai.
Lalu dengan pola pikir yang luas, kita akan terhindar dari yang namanya menjadi kaum sumbu pendek. Kaum yang beda sedikit langsung sensitif dan kaum yang kalau berbicara tidak pernah disaring dulu, alias kata-kata yang terucap darinya seakan tak beretika.

4. Latih soft skill kita, jaman sekarang ngandelin ilmu dari perkuliahan dan dosen, ya mana cukup?
Soft skill mutlak kita butuhkan. Banyak lho lulusan perguruan tinggi yang belum punya skill mantap untuk bersaing di dunia kerja. Soft skill adalah segala kemampuan diri dalam mengerjakan sesuatu. Dan ini tidak diberikan di perkuliahan. Soft skill bebas kita tentukan sendiri. Sukanya apa? Menulis? Latihlah kemampuan menulismu, dan coba kirimkan tulisan-tulisanmu ke surat kabar. Siapa tahu dimuat, kamu dianggap kontributor dan kamu dapat uang. Suka ngengambar digital? Buka jasa desain grafis, latihlah kemampuanmu sampai lancar. Jika sudah ok, bolehlah sekali-sekali ikut kompetisi desain atau naikkan harga jasa desain.

Bisa dilihat bahwa memiliki soft skill,tentunya akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri kita, apalagi kita yang nanti akan melamar kerja. Punya skill dan kemampuan sendiri, mutlak dibutuhkan. Agar kita banyak bisa dalam segala hal.

5. Jangan kerja dulu di semester awal
Photo by JESHOOTS on Pexels


Kerja sambil kuliah sangatlah baik. Karena selain menguatkan kita, tanggung jawab pun bertambah. Tapi, sebaiknya pikirkan lebih jauh jika kita ingin sambil kerja dalam berkuliah. Apalagi saat awal-awal kuliah.
Masih banyak dunia perkuliahan yang perlu kita kenal. Kita mungkin akan menemui kesulitan saat kita ingin mengikuti organisasi kampus, himpunan mahasiswa (Hima) ataupun unit kegiatan mahasiswa (UKM), karena terbentur jadwal kuliah dan pekerjaan kita yang begitu padat. 

6. Jadilah anak rajin! Jangan malas!
Photo by Burst on Pexels


Ini sih klise, tapi masih banyak yang susah ngelakuin. Intinya, kalau kuliah, ya, jangan malas. Ikutin jadwal dan kebiasaan dosen. Kalau dosenmu tepat waktu, jangan sekali-kali berangkat terlambat, atau kita akan kehilangan satu kali absensi perkuliahan, yang artinya hal tersebut akan mengurangi nilai kita nanti. Kalau dosen nggak masuk, jangan kebanyakan hura-hura. Balik lagi ke poin 4. Lebih baik kita latih dan pelajari skill yang ingin kita miliki. Dan, terakhir..

7. Jangan lupa senang-senang bareng kawan!
Photo by Helena Lopes on Pexels


Mumpung kuliah pun masih belum kenceng-kenceng amat, nih. Boleh lah, di waktu senggang perkuliahan, kita jalan bareng sama teman-teman kita. Mau yang jauh atau dekat gak terlalu jadi masalah, yang penting bareng. Kenali diri satu sama lain. Cari teman dekat kita. Karena, dalam empat tahun perkuliahan, sebagian besar akan kita habiskan bersama teman-teman yang kita pilih. Ingat, empat tahun tidak bisa kita bilang sebentar. Pandai-pandailah bergaul dengan kawan-kawan dekat kita.

Intinya, perkuliahan tidak menjamin kita akan sukses. Tidak menjamin kita jadi pintar. Semua kembali lagi pada diri sendiri. Bagaimana cara kita menjalani empat tahun perkuliahan ini? Yakinlah. Proses tak akan mengkhianati hasil.

Selamat menempuh hidup baru di dunia kampus. Semoga perjuangan teman-teman mahasiswa baru dalam empat tahun berkuliah dapat berbuah manis.*
Share:

Visitor Count