Kebangkitan Nasional


Selamat Hari 'Kebangkitan' Nasional. Selamat. Hari. Kebangkitan. Nasional.

Yang keberapa? Keseratus. 100. Hore!

Apa yang sudah berhasil kita capai sebagai bangsa Indonesia yang merayakannya setiap tanggal 20 Mei?

Oke, mungkin saya terlalu sinis nan apatis. Saya sadar, seharusnya saya lebih optimistis sebagai bangsa. Sebenarnya, saya juga tidak ingin tulisan ini nantinya malah semakin menjatuhkan mental dan semangat bangsa yang saat ini sudah susah bangkit.

Tapi, saya tidak bisa pura-pura terhadap realita yang ada. Seperti contohnya, sewaktu saya membuka situs The Jakarta Post. Waktu itu sekitar 17 Mei dan saya sempat tertarik dengan kolom opininya. Pembaca dipersilakan mengirim opini mereka tentang 100 tahun Kebangkitan Nasional, baik dari segi positif maupun negatif.

Akhirnya, apa yang saya isi?

Tidak ada. Jujur saja, saya bingung. Kalau saya tulis semuanya baik-baik saja dan ada perkembangan, rasanya seperti sebuah penyangkalan. Entah kenapa, saya tak suka pura-pura. Rasanya justru lebih menyakitkan bagi diri sendiri, terutama mengingat banyak yang terjadi akhir-akhir ini.

Kenaikan harga BBM merupakan masalah besar yang memicu banyak masalah lainnya. Dengan kata lain, inilah era kebangkitan 'harga-harga' nasional. Apalagi, pemerintah mencabut subsidi BBM dengan alasan agar si kaya tidak ikut-ikutan menikmatinya. (Buat yang miskin diharapkan mengerti, karena hanya inilah cara yang mereka tahu.)

Lalu, ada lagi kekacauan-kekacauan yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan tidak penting. Kita tahu tragedi kekerasan yang terjadi di Monas 1 Juni lalu. Kekerasan yang sayangnya mengatasnamakan agama. Ironisnya, agama yang mereka bawa-bawa itu justru malah mengajarkan perdamaian dan kelapangan hati untuk memberikan maaf. Sayang sekali.

Sebenarnya juga, tak perlu jauh-jauh atau menunjuk peristiwa besar tertentu untuk melihat kenyataan akan kualitas bangsa ini. Lihatlah kejadian sehari-hari yang keburu dianggap lumrah. Orang-orang yang sembarangan membuang sampah, terutama dengan alasan klise: "Nanti juga ada yang membersihkan!" Celakanya, mereka yang (katanya) berpendidikan tinggi pun melakukannya. Termasuk dalam urusan antri-mengantri...apa pun. Selama yang di otak mereka hanya ada: "Asal saya bisa dapat duluan, karena saya buru-buru!", mereka tak peduli orang-orang yang mereka dorong atau gencet hingga terjatuh, cedera, sesak napas hingga pingsan atau bahkan...meninggal. Saat hal itu terjadi, yang ada hanya saling menyalahkan dan sesal sesaat - atau bahkan tak peduli. Setelah itu, kebiasaan buruk kembali. Entah kapan kita benar-benar akan belajar dari kesalahan masa lalu dan mau berubah.

Entahlah. Mungkin saya hanya terlalu sinis. Tapi, saya juga tidak ingin kelewat apatis. Saya masih ingin punya harapan indah untuk bangsa ini. Semoga kita semua bisa bertambah dewasa dan lebih bijaksana dalam menyikapi segala persoalan. Semoga pendidikan bisa terjangkau oleh semua orang dan benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata, bukan sekedar formalitas nilai bagus dan ijazah yang nantinya hanya akan jadi pajangan dinding belaka. Dengan begitu, kualitas manusia Indonesia akan meningkat. Jangan hanya harga-harga bahan pokok saja yang melonjak.

Yah, semoga saja...(PI)
Share:

1 komentar:

nyarinama mengatakan...

mas, hari kebangkitan harus kita rayakan dengan hal yang bermanfaat, tul gak? kirim komen ya ke blogku!!

Visitor Count