Berkarya | PODCAST INSIDE


Karya.
Karya di masa kini sudah merupakan kartu nama bagi kita untuk diperlihatkan ke orang lain. Pada zaman ini, yang sangat membutuhkan inovasi dan kreasi untuk kita bisa bertahan hidup, bisa berkarya merupakan 'sunnah muakad' bagi kita semua. Bahkan bisa menjadi wajib jika kita memang mencari penghasilan dari berkarya.
Namun, bagaimanakah dengan kita yang baru saja ingin memulai berkarya?
Bagaimana jika karya pertama kita hasilnya tidak seperti yang kita harapkan?
Bukankah sangat mengecewakan jika kita berkarya, tapi like, view dan apresiasi sangat sedikit?
Tenang.
Kita-kita yang mengalami itu tidak sendirian.
Bagaimana pandangan saya sebagai pekarya yang masih amatiran ini, memandang hal tersebut?
Mari dengarkan pendapat saya di podcast Misty Poems episode kedua ini.
Silakan klik di tombol play di bawah ini.

Share:

INDONESIA DARURAT KOMEDI

Sekali lagi, bangsa ini kalah dan mundur langkah. Silakan banggakan slogan "Bangsa Yang Besar", meski nyatanya hanya dipenuhi kumpulan besar para fanatik yang siap menjegal dan membelenggu saudara sendiri. Muslim dan Coki yang kini mundur dari dunia komedi dan Majelis Lucu Indonesia, hanya korban kecil kefanatikan mereka. Boleh jadi yang terdampak ringan. 

Tidak ada yang menang melawan gelombang kegelapan ini. Instrumen hukum gagal melindungi, para politisi mencari aman demi target jumlah suara, bahkan sekelas presiden pun impoten demi memperpanjang periode bertahta. 

Dear, konservatif militan. Silahkan nikmati kemenangan kalian menindas manusia lain. Saya yakin kalian tidak akan berpuas sampai di sini. Musuh-musuh baru akan kalian ciptakan lagi di esok hari. Awalnya hanya menarget kelompok agama di luar agama kalian dengan membatasi kebebasan beribadah mereka, kelompok sosial marjinal yang kalian belenggu hak hidupnya, minoritas syiah dan ahmadi yang kalian porak-porandakan, juga kelompok mazhab dan/atau manhaj lain yang kalian musyrik-musyrikkan dan kafir-kafirkan. 

Kelak ketika semua 'musuh' kalian berhasil dihabisi, kalian akan mulai saling 'bantai' di rumah sendiri. You'll fight against your own kind. Because that's what you do. You 'destroy' everything. Ruh pergerakan kalian adalah pertikaian dan darah. Sejarah telah banyak mencatat 'kebrutalan' para fanatik. 

Selamat datang di 'era kegelapan', my fellow Indonesians. Di mana sel kanker radikalisme makin menjalar dan menyusup di segala lapisan masyarakatnya. Berbungkus romantisme hijrah dan cinta syariah, Indonesia siap melanjutkan suksesi Suriah dalam mencapai kehancuran.


**
Allah itu maha pengasih lagi maha penyayang, tapi kenapa kita umatnya maha mencaci lagi maha membenci ?
Bagi saya, tawa yang dirampas ternyata sama menyakitkannya dengan dirampasnya harta benda.

Selamat, kepada kaum-kaum provokator munafik berkedok agama, yang senang melakukan ujaran kebencian, persekusi, mengobarkan keributan dan kekacauan berkedok bela agama.

Kalian telah berhasil merampas kata toleransi dari bumi pertiwi ini.

Kata-kata umpatan dari kalian yang biasa terdengar di sosmed, "Bodoh, Ya Kadzab, Tolol, Ga pernah ke majelis ilmu, belajar lagi, islam ktp lu bangsat!" 
Atau semacam, "Dari komen lu yang sok bela mereka ketahuan lu orang seperti apa, munafik… gausah bawa-bawa agama goblok! Darah lu halal anjing bangsat! Nih orang mengobarkan peperangan, seluruh umat akan bersatu melawan anda!"

Sesungguhnya perkataan di atas tidak sama sekali mencerminkan ISLAM!
ISLAM adalah agama yang dirahmati dengan dasar kecintaan terhadap Tuhan, Nabi, dan sesama makhluk hidup. Budaya Islam ialah beragama secara santun, menghargai satu sama lain termasuk perbedaan yang ada dalam kehidupan ini.
Yang merusak islam adalah tindakan intoleran, budaya yang mudah menyalahkan dan mencaci-maki, menyebarkan provokasi serta kebencian.

Memang mengingatkan orang yang sudah salah itu boleh. BOLEH.
Tetapi dengan kalian mengumpat.
Kalian sudah bertentangan dengan apa yang kalian sendiri bela.
Maka dari itu, silakan rayakan kemenangan kalian.
Kami, yang percaya toleransi terhadap sesama akan terus ada dan bertambah.
***





**tulisan ini merupakan elaborasi dari komentar saudara youtuber, yang memiliki channel "The Corrs".
Share:

PUISI: Di Hadapan Perempuan Perengkuh Jarak

Image by Luizclas - Pexels

Bukankah sudah pernah kuresahkan padamu
Tentang melankolia yang datang dari aksara
Juga tentang jarak yang mengiris cahaya
Semata hanya untuk mencari bibir yang menipis karena melukis

Kepadamu, wanita yang baru saja merayakan kesedihan;
Pulas saat malam, terbius aroma parfum tadi sore,
Dengan wajah tercetak kerut seprai;
Bait sunyi dari tatapmu mendatangiku. 
kuat-kuat ku menggigit bibir
saat di antara kita tertiup badai
dan kita berpura-pura

bahwa hati ini bertutur keluh menjaga khawatirmu.
dan dengan tabah tak berkisah apa-apa

Cerita-rahasia pendek di antara kita
Tertulis, terkatakan, termaktub, dan kini
ia punya suara
membuatku merasa tidak ada di mana-mana
sekaligus membuatmu terdengar di mana-mana

mungkin saja kau adalah aku, dan
aku adalah seikat nada yang Tuhan kirim untuk
merawat ronta kesepianmu
dan, sekali lagi,
mari renungi ketidakberdayaan kita
mari sejenak termenung,
kita terjebak dan tak bisa melakukan apa-apa.

Kepada malam yang mengigilkan ingatan
Kepada jarak yang mengundurkan sentuh
Kepada perasaan yang harusnya tak dipermainkan;


Siapakah di antara kita yang paling takut ditinggalkan?

**
Musikalisasi:


Share:

Visitor Count